Siapa Penjual Jajanan SD yang Paling Kamu Ingat?

Lorong sempit ini ada di kampung Gambuhan, dan SD yang hampir tak punya halaman luas ini mari kita sebut saja SD Gambuhan. Lokasinya dibalik tembok megah keraton kesultanan Solo, cukup dekat dengan makam ki Ageng Solo. Konon, Gambuhan ini salah satu kampung NU di sekitar keraton, sebab kampung lain memang lebih bercorak Muhammadiyah. Saya coba cek mesjidnya, memang ada bedug, kentongan dan kolah air tempat berendam kaki di bawah keran tempat wudhu.

“Jefri telaaaat. Jefri telaaaaat.”

“Weeeee Jefri telat weeee. Lihat tuh yang lain udah pada habis jualannya. Dasar Jefri Al Buchori hihihi.”

Bayangkan kalimat itu diucapkan bersama-sama oleh empat orang bocah yang nampaknya berkawan baik dengan nada sama yang digunakan bocah ketika bersorak, “orang gilaaaa. Orang gilaaaa.”

Tapi, tunggu dulu. Sorak sorai itu bukan bentuk bully. Jefri yang mereka goda sambil cekikikan itu adalah tukang siomay yang datang terlambat ke halaman sekolah. Konon, Jefri sudah mangkal di SD Gambuhan sejak hampir 20 tahun lalu. Mulai dulu masih pakai gerobak dorong, pakai sepeda, sampai sekarang bawa sepeda motor. Nah, anggap saja waktu istirahat sekolah hanya 20 menit, dan Pak Jefri hari ini ternyata datang baru pada menit yang ke-18.

Relasi anak-anak dan tukang jajanan langganan ini ternyata berbeda. Saya juga baru sadar lagi tadi. Tukang penjual cilok, siomay, bola ikan, es-es warna wadah plastik, punya ikatan begitu intim dengan anak-anak. Mereka tidak marah dipanggil dengan langsung menyebut nama, mereka tidak marah dengan sorak sorai. Ketika anak-anak berkerubung ke motor mereka lalu berebut mengambil berbagai olahan tepung kanji dalam dandang, wajah para bapak itu sumringah. Relasi mereka tampak setara dan tidak ada sekat. Puluhan anak-anak itu semuanya bagaikan anak-anak kandung yang mereka sayangi.

Saya jadi ingat tukang jajanan yang setiap sore pukul empat selalu mampir ke desaku di Blora pada masa kecil dulu. Kami, semua anak-anak di desa memanggilnya Joko Thole. Betul, tanpa Pak atau Pak dhe, hanya Joko Thole. Joko Thole mengayuh sepeda, di boncengan sepedanya terpasang dua kotak kayu di sisi kanan dan kiri. Joko thole menjual gulali, harum manis, kertas orang-orangan, kartu bergambar, tiupan bola air sabun, gelembung balon karet, mobil-mobilan, gasing, dan banyak mainan yang sedang “hits” pada masa itu. Jika toko mainan mahal di kota menjual beyblade asli seharga ratusan ribu, maka Joko Thole menjual tiruan beyblade yang harganya beberapa lembar ribuan saja.

Joko Thole adalah sahabat anak-anak. Ia mangkal di bawah pohon sirsak depan poskamling dekat kali. Ia hafal semua nama kami dan nama seluruh orang tua kami padahal kami tak tahu Joko Thole berasal dari mana. Joko Thole memang tidak hanya seorang penjual mainan dan makanan anak, ia juga seorang teman yang menemani kami bercerita persoalan remeh kanak-kanak, menyambut kami ketika pamer aduan jangkrik yang dikili dan dijantur, bahkan menemaniku cari kangkung buat kelinci ketika sore masih sepi.

Tiba-tiba aku merasa bapak dan ibu kantin sekolah itu manusia-manusia super penuh cinta. Dan, aku masih takjub dengan wajah anak-anak yang sumringah ketika jam istirahat sekolah dan berhamburan menyoraki tukang jajanan kesayangan masing-masing itu. Wajah tidak takut masa depan, wajah kepolosan, wajah kejujuran

“Jefri telat…. Jefri telat…

*Btw, di sekolah-sekolah mahal moderen tidak ada pemandangan tukang jajanan yang dianggap tidak sehat seperti mereka. Di genggamanku itu es koko krunch. Komposisinya air, susu coklat sedikit, es batu, dan ditabur koko crunch beberapa butir. Harganya dua ribu rupiah.

Foto Kalis Mardiasih.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.