Mojok.co dan Komedi Sebagai Perlawanan

Bulan Mei lalu, saya diundang stand up comedian perempuan Indonesia (selanjutnya kita sebut comic perempuan) yang mengadakan show di gedung teater bulungan, Jakarta Selatan bertajuk #PerempuanBerHAK. Penampil malam itu adalah Sakdiyah Ma’ruf, Alison Thackray, Jessica Farolan, Fathia Sari Puspita dan Ligwina Hananto. Ada juga Gamila Arief, istri Pandji, yang malam itu tampil sebagai pembawa acara dan musical performance. Sejujurnya, saya bukan penikmat stand up comedy, baik live maupun di televisi. Meskipun pernah menyaksikan open mic di daerah, malam itu adalah gelaran stand up paling besar yang pernah saya hadiri.

Secara pribadi, saya mengenal Sakdiyah Ma’ruf. Mbak Diyah adalah sosok kakak yang memberikan banyak sekali pelajaran kepada saya tentang self-esteem dan rasa percaya diri. Ketika mendampinginya dalam beberapa pekerjaan, saya berperan sebagai fans yang kagum, tapi ia mendidik agar saya bisa mandiri, bukan sekedar mengagumi atau terus jadi follower. Publik mengenalnya sebagai seorang seniman, interpreter dan penerjemah.

Saya membaca pengantar tesis yang membawanya meraih gelar master, soal comedy jihad. Tesis itu kurang lebih bercerita tentang bagaimana publik Amerika antipati kepada Islam (Islamophobia) dan bagaimana kemudian Muslim Amerika memulai sejarah show stand up comedy. Kondisi di Amerika pasca 9/11 terhadap Muslim memang sangat sulit. Terlalu banyak kecurigaan konyol yang ditujukan kepada Muslim Amerika sehingga masyarakat Muslim hampir-hampir tidak menemukan cara untuk membela diri. Di tengah situasi sulit itulah, Amerika memunculkan Dean Obeidallah, Maysoon Zahid dan kawan-kawan mereka yang memutuskan untuk melawan situasi politik dan sosial yang sulit dengan menertawakannya. Ya, Dean akhirnya mengajak Muslim Amerika bersama-sama menertawakan kondisi mereka bersama-sama lewat show-show stand up comedy. Show pertama mereka bisa dibilang adalah sebuah revolusi!

Cara semacam itu, mungkin mirip dengan apa yang dilakukan Marjane Satrapi, feminis Iran-Amerika lewat Persepolis dan karya-karyanya yang lain. Satrapi merdeka mengantar ide perlawanan lewat satire. Di sini, saya belajar menulis kritik dengan seni bercanda lewat situs mojok.co. Oya, tidak semua penulis mojok.co punya motivasi yang sama dalam kaitannya menggunakan situs ini sebagai alat belajar, jadi tidak perlu dipermasalahkan. Tiap penulis punya identitas berbeda.

Saya ingat ketika berada di ruang make-up untuk mewawancarai Ligwina Hananto sebelum show #PerempuanBerHAK. Ligwina bilang, “aku adalah ibu untuk anak-anakku. Aku juga adalah istri dari suamiku. Tapi, ada saat-saat tertentu di mana aku adalah seorang Ligwina. Aku memiliki profesi dan pandangan politik pribadi yang berbeda dari suami. Di Indonesia, kadang-kadang hal ini belum begitu diperhatikan. Seorang Ligwina boleh berbeda pendapat dengan suaminya.”

Alison yang memiliki sebuah sekolah di Bandung juga sempat curhat. “Aku tinggal di Bandung sudah belasan tahun. Biasa saja dengan identitas buleku ini. Tapi akhir-akhir ini, aku merasa Bandung sudah berubah. Sering ketika aku lewat, orang-orang berani memandang sambil berbisik-bisik soal pakaianku. Padahal aku masih memakai t-shirt dan celana pendek biasa. Ya aku harus pakai apa? Aku kan kafir?” kelakarnya.

Pertunjukan malam itu betul-betul mendebarkan. Beberapa kali, saya yang duduk di tengah-tengah Arie Kriting dan Hannah Al Rashid saling berpandang-pandangan dan geleng-geleng kepala. Saya memberi standing applause berkali-kali untuk materi soal janda yang dibawakan Alison, atau materi soal perawan tua yang dibawakan Fathia. Tapi, tak jarang juga saya menggelengkan kepala dan tidak percaya ketika Jessica membawakan materi tentang stigma keperawanan atau Sakdiyah dan Ligwina yang meledeki Pandji habis-habisan karena dukungannya pada Gubernur Anies Baswedan. Pandji ada di ruangan yang sama, bahkan Gamila istrinya ada di panggung.

“Ini materinya nggak bakal diunggah ke kanal online kan, Rie?” tanya saya ke Arie.

“Nggak tahu. Emang gila banget nih materinya.”

Para comic perempuan yang bicara malam itu memang keterlaluan beraninya. Semua satire, sarkasme, yang mereka lempar di panggung adalah materi yang “bahaya” jika didengar telinga-telinga yang tidak siap. Tapi, di gedung teater itu, semua orang sekaligus bisa tetap tertawa.

Saya ingat sebuah percakapan WA saya dengan Mbak Sakdiyah.

Katanya, “bagiku, comedy almost relijius. Jika boleh meranking, mungkin Louis CK adalah tokoh idolaku setelah Nabi Muhammad.”

Selain Ligwina, para penampil malam itu memang bisa disebut para perempuan marjinal dalam komunitas mereka masing-masing. Sakdiyah yang keturunan Arab, Jessica seorang tionghoa, Fathia yang terbebani stigma “perawan tua” bekerja sebagai karyawan sebuah hotel bintang lima dengan segala bebannya, dan Alison Thackray, yang sudahlah bule, kafir, janda lagi! Lengkaplah minoritasnya sebagai penduduk Indonesia.

Saya kemudian paham bagaimana komedi sebagai seni kritik ini bekerja. Saya jadi paham kenapa ketika menonton Indonesia Lawak Klub oleh Kang Maman bisa terhibur. Saya juga paham mengapa banyak orang menikmati membaca mojok.co. Tetapi, tentu saja setiap hal di dunia ini tidak bisa diterima semua orang. Apalagi seni, salah satu instrumen yang menurut Jakob Sumardjo punya cabang ilmu filsafatnya sendiri.

Banyak orang yang tidak bisa memahami komedi. Banyak orang yang tidak merasa nikmat dalam bercanda. Seperti banyak orang yang salah paham dengan kalimat-kalimat Gusdur sebelum berhasil menelannya secara utuh.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.