Bapak Melihat Politik

Tahun 80-an, masa ramai-ramainya PDI rajin bikin dangdutan di daerah-daerah, Bapak yang kala itu profesinya berubah-ubah mulai kuli angkat barang hingga juru parkir di pasar, tak ketinggalan buat meramaikan helatan. Biar pun masa itu belum ada alat komunikasi memadai, berita perihal pertunjukan dangdut atau joget tayuban selalu tersiar di mana-mana, atau barangkali memang pada masa itu, komunikasi gethok tular di pasar sekaligus merupakan pusat informasi. Lelakiku itu memasukkan kaos rapi ke dalam pantalon licinnya, tak ketinggalan pula ikat pinggang bertengger di pinggulnya. Di antara panggung-panggung itulah kurasa ia melihat ibuku, lalu tergila-gila.

Tahun 90-an ketika Islam politik mulai mendapatkan panggungnya bertepatan dengan masa pertaubatan Bapak. Ia yang mulai rajin mengaji ke seorang kiai pengasuh pesantren terbesar di kota kami, lalu menjadi simpatisan PPP Hamzah Has. Dari warung ibu yang ada di halte seberang kantor PLN, ketika berjaga warung, masa kanakku mengenang sebuah kampanye PPP yang riuh dengan bunyi-bunyian motor. Kulihat Bapak ada di antara riuh itu. Ia memakai jubah, serban di kepala, cadar dari kain bertuliskan nama partai, dan membentangkan kain bergambar kabah di motor yang ia tumpangi. Kau pasti bingung membayangkan bagaimana ia membentang kain selebar kira-kira 1,5 x 1,5. Ya, benar, tentu saja ada tiga orang di atas motor. Seorang memegang gas mengendalikan laju, dan dua orang di belakangnya yang menggerakan apa saja, mulai dari bendera, pelantang, hingga dua tangan dan kaki mereka sendiri mirip gerakan berenang di udara.

Bertahun-tahun pada era reformasi, Bapak masih setia pada PPP. Ia tampak tidak tertarik pada partai-partai lain yang jumlahnya puluhan itu. Aku mengingatnya sebab gambar-gambar yang terpajang pada dinding rumah kami. Jika pajangan pada ruang tamu konon menggambarkan ideologi pemilik rumah, maka masa itu di bilik kayu ruang tamu gubug kami adalah kaligrafi lafaz Allah dan Muhamad, asmaul husna berpigura kayu selebar 120 cm, dan kalender PPP. Bapak berulang kali bercerita kalau Kiai Maimoen Zubair, tiga kali periode di MPR RI, tak sekalipun ambil gaji maupun tunjangan.

Aku lalu tidak paham kapan ia berhenti menjadi fans PPP. Tetapi aku memastikan Bapak adalah tipe massa kelas bawah yang semangat tiap kali ada pemilu. Ia selalu bangun pagi lalu membangunkan semua orang di rumah untuk berangkat ke bilik suara bersama-sama. Kesalahan terbesar keluarga kami, barangkali adalah menyumbang kompak 10 suara kepada SBY pada pemilu 2004 dan 2009. Tentu saja penyebabnya adalah pengaruh ibu kami yang bilang bahwa SBY itu ganteng. Ibu-ibu lain di desa juga memilih SBY. Mereka bilang, penting buat punya presiden yang tegap dan ganteng seperti SBY walaupun belakangan kita semua tahu ia lebih sering prihatin dan mengeluhkan volume kantung matanya.

“Sekarang Bapak sudah nggak minat dengar berita politik. Dan mungkin nggak punya tenaga kalau ada pemilu lagi. Bapak kok sakit hati ya kalau ingat korupsi E-KTP ini. Duit amanah kok bisa dibagi-bagi begitu. Kok begitu banget ya pejabat jaman sekarang.”

Itu kalimat Bapak kemarin pagi yang membuatku mak dheg. Kupikir, itu ungkapan sakit hati yang serius dan layak kurenungkan dalam-dalam.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.