Bertemu Abah Habib Luthfi Bin Yahya

Pada sebuah pengajian di stasiun televisi yang mengaku TV Islam, saya pernah merekam dalam ingatan, tentang sebuah sesi tanya jawab. Ummahat (sebutan untuk jamaah dari jenis ibu-ibu) bertanya kepada Ustad yang berjenggot dan berjambang tebal. Kira-kira, pertanyaannya adalah, “Ustadz, bagaimana cara menjaga pandangan jamaah perempuan kepada Al ustadz?” Dalam tanya jawab itu, si ibu jamaah menjelaskan bahwa jamaah juga memiliki peluang tergoda kepada Ustadz yang ganteng lagi alim, yang dengan begitu, menurutnya, dibutuhkan strategi khusus untuk menjaga pandangan.

Saya lupa tepatnya Sang Ustadz keturunan Arab itu menjawab apa. Ia tipikal Ustadz khas TV islam yang berbicara tanpa artikulasi yang jauh dari seni retorika yang puitis. Gaya bahasanya meledak-ledak dan nampak ingin agar semua orang sepakat pada temuannya tanpa memberi peluang seorang untuk berpikir, menyanggah, atau tertawa. Tertawa saja tidak,apalagi untuk memberi pemakluman pada perbedaan. Ia pasti tidak gemar mendengar atau menyanyikan bait-bait lagu Frank Sinatra. Ia pasti juga tidak pernah mendengar lantun Sholawat dari Langitan. Bahkan, orasi korlap aksi atau seruan acara rohani Kristiani di RCTI terdengar jauh lebih puitis. Tapi, saya menangkap bahwa ia menyetujui pernyataan si Ibu, bahwa jamaah memiliki peluang rasa-rasa berahi serupa syahwat meskipun kepada Sang Ustadz, demikian pun sebaliknya. Sebuah pertanyaan dan jawaban yang hingga kini sering saya anggap aneh. Jamaah yang memosisikan Ustadz-nya setara artis sekelas Saipul Jamil. (Saat itu saya segera mematikan televisi lalu pergi olahraga sore).

Kemarin, 13 Agustus 2016. Kurang lebih dua jam saya duduk tepat di hadapan Maulana Habib Luthfi Bin Yahya. Tepat 180 derajat. Bukan 120 atau 90. Jarak kami kurang lebih satu setengah meter. Dalam kamar hotel tempat Abah beristirahat itu adalah Abah, saya, sepasang suami-istri yang nampak sudah dekat dengan Abah, seorang Ibu usia 45 tahunan dan Ibunya yang kira-kira berusia hampir 70 tahun. Lima orang, menjadi berjumlah enam dengan Abah. Oya, selain saya, empat orang tamu Abah itu datang jauh-jauh dari Yogya. Sebelum duduk menghadap Abah, saya telah beberapa kali melihat Abah dari jauh. Dua jam sebelum duduk menghadap Abah, saya ingin minta salim kepada beliau, tapi beliau bilang nanti saja setelah Abah kembali ke hotel sebab masih punya wudu. Saya melepas pandangan dari mobil Abah yang meluncur ke acara walimatul ursy putri seorang Habib di Solo.

Akhirnya, saya duduk tepat di hadapan Abah. Saya tidak ingin menyajikan kalimat-kalimat hiperbola. Sejujurnya, saya datang tak lebih dengan perasaan seorang pencari.

“Mas, saya terlalu lama melahap buku-buku sekuler. Filsafat pandangan-pandangan dunia yang melepaskan diri dari agama bahkan Tuhan. Awalnya, saya pikir buku-buku semacam itu tidak akan memiliki pengaruh yang berlebihan. Ternyata, ia berpengaruh, utamanya, saya sering menggunakan akal terlalu banyak, tapi sulit menghadirkan hati. Hampir tiap hari selama bertahun-tahun, perasaan semacam itu terbawa ketika ibadah fardhu. Sholat, puasa, berdzikir. Bertahun-tahun saya tidak mampu mendefinisikan kenikmatan ibadah.” “Saya mencari guru, sesungguhnya merupakan usaha untuk diri saya sendiri…” Saya berkata lirih dengan perasaan tak menentu kepada Kang Ahmad Tsauri, santri Abah.

Sedari detik pertama, mata saya lekat memandang Abah. Oh, ini ulama yang kharismatik itu. Oh, ini ternyata Mursyid thariqah Bapak. Oh, ini ternyata tokoh yang kisah-kisahnya nan luhur kerap diperdengarkan oleh beberapa kawan. Oh, saya sedang duduk tepat di hadapannya. Tamu di kiri dan kanan saya mulai berbicara. Saya menunduk, sambil tetap memandang lekat pada Abah. Mereka terus berbicara, dengan sedikit berbisik-bisik. Saya terus memandang lekat pada Abah. Abah tersenyum. Ia menanggapi tamu, sepasang suami istri di sebelah kanan Abah, di sebelah kiri saya. Saya tetap memandang lekat pada Abah. Saya mendengar kalimat demi kalimat yang disampaikan Abah. Abah seperti melafalkan doa. Kemudian meniup air-air dalam botol yang disorongkan sepasang suami-istri itu.

Peristiwa yang oleh sebagian orang yang menganggap dirinya salafush shalih sebagai bid’ah. Tetapi, saya melihat proses itu. Proses Abah melafal doa dan kemudian meniupnya. Saya memandangnya lekat sekali. Indah sekali. Saya seperti ingin terus menyaksikan Abah melafal doa sambil bergumam itu.

Saya masih diam. Menunduk, dan terus memandang Abah. Seorang Ibu di samping kanan saya bercerita tentang dua anaknya yang bersekolah di Yogyakarta International School. Si Ibu prihatin menyadari anaknya yang kini berusia 16 tahun tetapi belum bisa mengaji sama sekali. Wajah si Ibu terlihat sangat serius dan harap-harap cemas. Ia menunggu solusi untuk anaknya dan doa apa yang kira-kira mesti ia amalkan agar anaknya “mau” mengaji, sebab tarafnya sudah sampai “tidak mau” dan “melawan” jika disuruh mengaji. “Ayat kursi. Lima kali setelah shalat fardhu.” Jawab Abah,”Kalau mau ke Krapyak… Hm… Gus Maksum. Coba titip Gus Maksum…” “Kalau surat al insyirah…” (dan lain-lain, dan lain-lain) Ibu itu menyebut beberapa surat lagi. “Ya bagus. Mana ada ayat Al Qur’an yang tidak bagus. Malah bisa kita katakan seluruh bahasa Allah di dunia ini bagus. Bahasa yang kita gunakan sekarang ini kan juga bagus. Hanya saja, harus tepat penggunaannya.”

“Harus tepat pripun Abah?” Deg. Itu kalimat pertamaku. (Kalimat pertanyaan yang cukup pretensius kupikir. Dasar tukang ngeyel). “Ya…harus tepat. Bumbu rawon kan untuk masak rawon. Bumbu soto untuk masak soto. Kalau tidak tepat, bisa agak kurang tepat juga hasilnya.” Aku menyimak. “Ya, seperti contoh Bahasa Indonesia. Bapak-Ibu, Anda, Kamu, kan ada hierarki nya sendiri-sendiri, padahal maknanya sama.” Aku mencoba mencerna kalimat-kalimat itu. “Ayat kursi nya diutamakan ya.”

Oh, mungkin kira-kira maknanya begini. Kalau penyakitnya sudah agak kronis, Allah suka dengan ratapan yang kuat dari seorang hamba. Sebuah jenis rayuan yang betul-betul. Barangkali ayat kursi itu sejenis rajukan hebat. Si Ibu manggut-manggut seiring aku yang menyimpulkan sendiri keterangan Abah. Kadang-kadang, kamar hotel yang cukup luas untuk kami dapat melingkar di atas permadani antara televisi dan kasur berukuran double bed itu menjadi hening. Abah menyalakan rokok kembali. Batang kedua.

“Emm… Abah. Dalem kuliahnya sudah selesai. Emm…dalem mohon ijin nderek ngaji. Dalem kangen kepengin ngaji.” Kalimat-kalimatku. Meluncur dengan terbata-bata. “Bagus… Mau kemana?” “Ke Krapyak…tapi Mas Tsauri ngendikan diutus ke Pekalongan…” Abah meneguk air putih. Air sumur yang dimasukkan ke dalam kendi tembikar. Abah ternyata tidak minum air kemasan.

“Hehehe…Ya, bagus…bagus itu.” Abah tersenyum. Ia melihat kepadaku. Seperti Bapak.Seperti kakek. Seperti…(Aku tidak ingin mengatakan ini. Aku tidak tahu pasti. Tapi, tiba-tiba Abah kelihatan ganteng sekali. Begitu ganteng. Lalu aku teringat Nabi Muhammad. Lalu aku ingat, bahwa ulama adalah waratsatul Anbiya. Lalu, aku sangat sadar, sedang melihat sebuah senyuman yang begitu teduh.)

Si Ibu yang mengeluhkan anaknya kembali berbisik-bisik pada Abah. Rasanya, berat betul ya menjadi ulama yang setiap hari didatangi orang-orang dengan berbagai keluhan seperti itu. Ulama, pastilah seorang yang hatinya seluas samudera hindia dan gurun sahara (kabarnya mereka luas sekali. Aku menonton di National Geographic bahwa laut Amazon dan Bahama blue ternyata tidak begitu luas karena disesaki oleh tumbuhan air dan hewan-hewan aneh). Ulama menyimpan cerita sedih dan senang banyak orang. Lalu menjaganya.

“Ratibul hajat dan Ratibul Kubro.” “Kalau Al fatiha, Bib…” Si Ibu menyela. “Ratibul hajat dan Ratibul Kubro. Saya sudah membuktikan sendiri. Masya Allah…” (Lalu Abah bercerita perihal ia yang selamat dari kecelakaan kereta api yang maha dahsyat. Saya terkesima membayangkan gerbong Abah adalah satu-satunya gerbong yang listriknya tidak padam disaat yang lain padam sebab beberapa gerbong telah terbakar. Peristiwa itu, menurut Abah terjadi tepat ketika ia mengakhiri sholawat Ratibul Hajat dan Ratibul Kubro di sepanjang perjalanan sebelum akhirnya kepala kereta keluar dari jalur rel.” Serombongan orang, kira-kira lima orang masuk kamar. Seorang anak kecil menghamburkan pelukan ke Abah. Abah memeluknya erat.

“Cucu.”

Nafisa namanya. Kira-kira mungkin kelas dua SD.

“Sudah juz berapa?” Nafisa mengulum senyum. Memepet Abah. Dipeluk Abah lagi.

“Habib nanya juz berapa lho…Bukan berapa juz…” Abah terkekeh.

Ketika sedang menulis catatan ini, tiba-tiba ponselku berbunyi. Bapak menelpon. “Nduk, Bapak lagi di Mbah Bayat, Klaten. Kamu sedang apa ini?” “Di depan laptop. Lho…Bapak kok nggak ngabarin dulu…” “Yaaa kan cuma ngabarin. Setelah ini Bapak lanjut ke Magelang.” “Bapak, kemarin Kalis bisa hadap-hadapan sama Abah.” “Alhamdulillah…Sudah minta doa?” “Ndak. Kalis deg-degan…Cuma diam saja.”

“Hehehe…Alhamdulillah…Ndak semua orang dapat kesempatan bisa mendekat. Alhamdulillah, Bapak senang dengar kabarnya.”

Saya kembali teringat senyum Abah. Saya mengabadikan senyum Abah yang paling terakhir. Jadi begini, kemarin itu Abah turun dari lantai dua, mau balik ke Pekalongan. Saya sudah siap berlari pengen salim lagi. Entah kenapa tiba-tiba saya urung mendekat. Saya melihat Abah dari agak jauh sampai Abah masuk mobil. Saya mengamatinya lekat-lekat. Abah masuk mobil, membuka jendela kaca.

Saya masih mengamatinya lekat-lekat. Tiba-tiba, Abah menengok. Lalu tersenyum. Sejenis senyum yang kupercayai saat itu hanya ditujukan kepadaku saja, serta menengok hanya kepadaku saja. Saya membalas senyum Abah. Lalu saya dadah dadah. Seperti cucu yang akan ditinggal pulang kakeknya. Abah ganteng sekali. Saya tidak merasa perlu menjaga pandangan. Saya tidak melihat apapun selain keluhuran budi. Dan sayangnya, kata-kata tidak mampu melukiskan keseluruhan akhlak Abah. Saya tidak ingin kehilangan satu detikpun.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.