Bu Rahayu yang Non-Muslim Tapi Penuh Ruh Mudarris

Jumlah guru di negeri ini bisa jadi melimpah, akan tetapi, entah berapa persen kecilnya yang memiliki ruuhul mudarris atau jiwa pendidik. Jumlah Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) semakin melimpah, mulai dari yang tersohor di kancah Nasional, hingga cabang-cabang kecil yang berdiri di tingkat Kota/Kabupaten, membuat semakin sulit terukurnya kualitas tenaga pendidik baik secara makro dan mikro.

Anggap saja ini esai kenang-kenangan. Sekisah tentang tempatku menghabiskan pendidikan di masa kecil, TK dan SD Kartini Blora.

Kepala sekolahnya adalah seorang perempuan, Rahayu Sinarti, namanya. Ia tidak menikah. Berkat Gus Dur, ia jadi punya agama, sebab keyakinan yang dianutnya adalah Khong Hu Cu. Kami sebagai muridnya, dulu beberapa kali diajak jalan-jalan ke Klenteng. Syukur, tidak ada implikasi sama sekali pada perkara keimanan. Imajinasi kanak-kanak saya menganggapnya sebagai wisata praktik dari kesukaan menonton film Kera Sakti. Film Kera Sakti sedang sering diputar, dan pada atap klenteng itu memang ada grafis serta narasi yang mirip, tentang para dewa-dewa yang berjalan dalam rangka mencapai puncak kesejatian.

Selain punya hutang jasa pada Gus Dur, Bu Rahayu juga sekaligus kesal pada Gus Dur sebab meliburkan Ramadan selama sebulan penuh.

“Bikin para siswa jadi bodoh. Pas masuk sekolah, siswa pasti sudah lupa semua pada pelajaran.”

Kami dididik secara militer, ups maksudnya, kami memang terbiasa dijewer atau dipukul. Dengar-dengar, semasa kuliah di ITB dulu, Bu Kepala Sekolah ini juga tergabung dalam kerja-kerja militer, mungkin karena memang Indonesia masih sering revolusi fisik pada masanya. Jadi, ketika ratifikasi isu HAM masa kini menolak kekerasan fisik di sekolah, sesungguhnya murid-murid di sekolah kami dulu sudah biasa mendapatkannya. Kami terbiasa dipukul dengan tongkat bambu tipis ukuran setengah meter ketika tidak bisa mengerjakan soal di papan tulis atau sebagai sangsi kesalahan. Tapi, ketika sudah besar kini, kadang-kadang kami mengakui kalau hukuman fisik itu memang punya efek ke kedisiplinan. Ya, teman-teman seangkatan kami tidak berisik di kelas meskipun tidak ada guru, biasa menyapa yang lebih tua dengan menundukkan badan, juga tidak gemar mengganggu teman dan tidak mengucap kata-kata kotor.

Di sekolah, setiap hari para siswa berwushu atau main silat selama sejam hingga dua jam. Sialnya, kegiatan itu berlangsung siang hari saat dunia sedang terik-teriknya sehingga membuat kami biasa terpapar matahari.

Konsep sekolah alam belum banyak, masa itu aku dan teman-teman sudah diajar berkebun. Kami merawat kangkung, jagung, kedelai dan kacang tanah kami sendiri di sekolah.

Terdapat dua kantin. Semua kantin itu tidak menjual makanan-makanan yang memakai bahan pengawet. Satu kantin menjual makanan ringan semacam bubur dan olahan tahu serta jajanan pasar. Satu kantin menjual nasi goreng dan nasi sambal tanpa micin. Bu Rahayu sering bereksperimen di kantin itu. Produk unggulan yang dikenang para murid sepertinya adalah air sirih. Ya, kami sudah biasa minum air-air sehat semacam itu sejak belum tiba masa food combining. Itu tahun 96 hingga masa 2000-an.

Tahun-tahun itu juga belum tren sistem sekolah inklusi. Tetapi, sekali lagi, Bu Rahayu sudah menerapkannya. Aku mengingat beberapa nama teman yang (maaf) dianggap memiliki keterbatasan fisik juga kecerdasan intelektual di bawah teman-teman lainnya, tetapi ia sekelas dengan kami. kami biasa bermain bersama dan belajar empati ketika mereka lamban menyimak pelajaran. Tapi, hei, bukankan ada tujuh kecerdasan lain menurut Howard Gardner? Toh, terbukti, mereka yang tidak cerdas pada pelajaran teori di kelas itu kini sudah jadi ahli komputer, pengusaha hingga polisi. Mereka cakap pada bidang-bidang lain hingga peringkat berwushu atau keterampilan menggambar dan menari mereka jauh lebih baik dariku yang dulu punya kemampuan lebih baik pada mata pelajaran bahasa dan ilmu sosial.

Untuk pembelajar kelas tinggi (kelas 4, 5 dan 6), Bu Rahayu kerap menjalankan sistem montesori. Siswa tiga jenjang itu digabung dalam satu ruang kelas. Tujuan dari sistem montesori baru belakangan ini kuketahui, agar siswa pada jenjang lebih tinggi dapat membantu adik kelasnya, sedangkan jenjang yang lebih rendah bisa menyimak berulang-ulang materi yang diterima kakak kelasnya.

Dalam pelajaran bahasa Inggris, Bu Rahayu masih memakai sistem menghafal. Ia memberikan teks-teks naratif dua hingga tiga paragraf pada kami untuk dihafalkan. Baru-baru ini, aku baru sadar kalau pola pengajarannya mirip pondok pesantren Salafiyah tradisional ketika mengajar membaca kitab bahasa Arab. Per kata, ia beri artinya, kemudian kami harus membaca keseluruhan kalimat bahasa Inggris sekalian mengartikannya dalam kalimat utuh, lalu mengulang hafalan di depan kelas.

Setelah hafal, ia memberi pertanyaan untuk dijawab dalam pola dasar who, where, when, what dan how. Pola yang sungguh efektif dan menyeluruh, menggabungkan keterampilan listening, speaking, reading dan writing sekaligus.

Sepekan sekali, biasanya ada ujian mendadak dengan sistem dikte untuk semua mata pelajaran. Sistem itu menghendaki siswa untuk berpikir cermat dan tepat. Tentu saja tidak ada istilah contek-menyontek. Nilai kami biasanya selalu buruk. Standar soal begitu tinggi. Biasanya, kertas ulangan bernilai buruk itu justru ditempel di dinding-dinding yang mengelilingi sekolah.

Bu Rahayu gemar membaca. Ia berlangganan beberapa koran dan majalah anak-anak. Rubrik yang menarik ia potong-potong, lalu ditempelnya di majalah dinding. Sebelum memulai pelajaran, ia kadang bertanya kepada kami, ada berita apa pagi ini. Jika gagal menjawab, hukumannya adalah berdiri di depan papan mading untuk membaca hingga tuntas dan mampu menceritakannya kembali.

Karena ia adalah sosok yang punya sekolah, Bu Rahayu tidak pernah pakai sepatu. Ia memakai semacam sandal gunung. Kadang-kadang, ia mengajar pakai daster. Hahaha, sungguh egaliter dan menolak kemapanan. Tapi kalau urusan kedisiplinan, jangan minta ampun ya, sudah kubilang kami dididik ala-ala militer.

Seingatku ia memang benci pada Orde Baru. Ia piawai mendongeng sejarah, di kelas ia pernah mendongeng tentang kebohongan-kebongan Soeharto. Ingatan masa kecilku terbatas, tapi ia mengaku mendapat fakta itu dari radio luar Negeri. Ia juga pandai menjelaskan ilmu-ilmu pengetahuan alam dengan deskripsi-deskripsi yang mudah dipahami.

Oya, sebelum Pemerintah menerapkan metode subsidi silang soal SPP universitas yang disebut BHP itu, SD ku sudah menerapkannya. Dulu, nominal SPP SD Negeri lain masih 5 ribu hingga 10 ribu rupiah saja per bulan, sedangkan SD Kartini sudah hampir empat puluh ribuan. Teman-temanku yang orangtuanya pebisnis Tionghoa membayar lebih mahal, sedangkan aku si Jawa miskin ini membayar separo saja. Maaf, ini bukan rasis, tetapi dulu di kelasku, Tionghoa memang mayoritas dan mereka semua kaya-kaya, hahahaha. Tapi, toh, aku tetap juara satu di kelas, ups.

Aku tak tahu Bu Rahayu belajar sistem subsidi itu darimana, tapi yang jelas, ia seorang Tionghoa yang menyayangi gadis Jawa anak tukang becak sepertiku. Jadi, kalau sekarang ada sentimen anti Cina coba digaungkan kembali, aku susah terpengaruh karena ingat sosok baik yang begitu menghormati Ibuku yang cuma tukang ngepel lantai rumah orang kaya itu. Aku selalu ingat wajah Bu Rahayu ketika mengucapkan selamat dengan gembira pada Ibuku ketika aku juara kelas tiap cawu.

Kabar baiknya, bergaul di lingkungan SD yang begitu plural itu tidak membawa masalah apapun. Di kelasku tidak hanya ada teman beragama Protestan dan Katholik, namun memang ada siswa yang beragama Hindu, Budha hingga Khong Hu Chu. Bu Rahayu mengontrak masing-masing guru agama untuk kami.

Meskipun beragama Kong Hu Chu, ia mengijinkan kami mengadakan program pesantren kilat dan buka bersama ketika Ramadan. Guru agamaku ketika SD seorang Muhamadiyah, tetapi dulu ada program pesantren kilat bersama yang menggabungkan kerja-kerjanya dengan guru NU. Bu Rahayu juga memberi dukungan penuh ketika aku akan maju lomba MTQ di Kabupaten.

Wah, ternyata masa SD ku cukup menyenangkan. Dan aku jadi rindu pada Bu Rahayu. Hari-hari memang indah sebelum negara api menyerang ya hahahaha.

Kujadi ingin menulis seperti Totto Chan

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.