Bertamu Seru Edisi Alissa Wahid: Dari soal Paspampres, Gerakan Kultural hingga Kasus Afi

“Saya menikah bulan Juli tahun 1999. Dua bulan sebelum Gus Dur naik jadi Presiden. Saat itu suasana politik sedang serba kacau yang membuat saya dan suami tidak mungkin pergi bulan madu. Lalu, tiba-tiba Gus Dur jadi Presiden. Kemana-mana kami dikawal paspampres. Saat saya dan suami diam-diam pergi ke Bali, eh dicegat Rotary Club yang nanyain soal konflik Ambon. Lalu, kami nekad pergi ke Singapur, kabur dari pengawal pas di Cengkareng.” Putri sulung Gus Dur ini tergelak.

Ia bercerita ketika Gus Dur dilengserkan dua tahun kemudian pada 2011, posisinya sedang hamil tua.

“Saat itu benar-benar masa yang sulit buat saya.” Kenangnya.

Rumah Alissa Qotrunnada Wahid di Sleman, Yogyakarta, memang hampir tidak pernah sepi dari tamu. Mulai dari anak-anak muda pegiat Jaringan Gusdurian (jejaring untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran serta perjuangan Gus Dur), akademisi, seniman, tokoh-tokoh pergerakan sosial, budaya dan anti korupsi, dan para pemuka agama lintas iman, biasa hadir, baik untuk mengobrol biasa maupun berdasar undangan dari tuan rumah.

Beberapa titik di rumah itu sepertinya telah didesain untuk menjadi ruang yang ramah bagi tamu. Bersisian dengan perpustakaan yang berada di ruang tengah yang diisi buku-buku berbagai genre yang kebanyakan berbahasa Inggris itu, terdapat sebuah meja panjang, lengkap dengan papan tulis putih dan layar yang nyaman untuk aktivitas sejenis rapat.

Pada Minggu sore (11/6/2017) itu, saya bersama formasi lumayan lengkap Mojok yakni Prima, Agus, Bana dan Ali, diterima untuk mengobrol di sebuah gazebo yang nyaman di halaman belakang.

Gus Dur adalah seorang guru bangsa yang dirindukan berjuta manusia di seluruh dunia, khususnya pihak-pihak yang pernah merasakan dampak kasih sayang serta pandangan keadilannya. Tetapi, jika kita ingin mencari anak-anak Presiden yang memiliki kiprah yang tak kalah dengan sang Bapak, tak salah jika kita menyebut nama anak-anak perempuan Gus Dur.

Anak-anak perempuan Gus Dur mengaku berbagi peran untuk meneruskan kiprah Bapak mereka. Yenny Wahid dan Anita Wahid, memilih jalan dunia politik dan mengorganisasi The Wahid Institute. Sedangkan Inayah Wahid, sejak mahasiswa menekuni sastra, kesenian dan seni peran. Alissa Wahid sendiri memilih menjadi psikolog keluarga dan aktivis isu-isu sosial budaya dan anti korupsi. Ia mengelola sekolah Fasttrack, untuk menyalurkan kecintaannya pada anak dan dunia pendidikan.

“Sejak muda, Bapak sibuk sekali dengan kegiatan aktivisme melawan Orde Baru. Meskipun fisiknya nggak hadir, tapi psikisnya hadir. Kami juga menyaksikan keteladanan yang dicontohkan oleh Bapak dan Ibu.”

Ketika isu-isu agraria merebak akhir-akhir ini, sejak mula kasus, Alissa Wahid mengambil bagian mendampingi masyarakat yang memperjuangkan hak atas tanahnya. Hingga bertahun-tahun isu bergulir, semangat perempuan ini belum surut, ia terus mendampingi anak-anak muda dan para aktivis lingkungan menggelar aksi solidaritas dan menyuarakan orasi kebudayaan dalam berbagai forum.

“Kebetulan anak-anak Gus Dur kok perempuan semua ya, Mbak. Padahal biasanya kultur pesantren itu perlu anak laki-laki. Bagaimana sih sebetulnya harapan Gus Dur pada anak perempuan?” Saya bertanya.

“Bagi saya Gus Dur itu bukan aktivis gender ya. Meskipun ia terlibat dalam beberapa aksi pembebasan dalam isu gender, sebetulnya yang ia suarakan adalah keadilan. Jadi, cara mendidiknya ya sama saja. Prinsip yang dipakai adalah libertarian. Ia membebaskan apapun yang kami pilih. Bahkan andai saja saya memilih untuk tidak menikah, pun ia tidak akan melarang.”

Suatu hari, perempuan yang mengaku menggemari cerita dalam buku Musashi dan Taiko ini ketahuan Gus Dur keluar kamar dalam keadaan menangis sehabis berdebat dengan Ibu Sinta Nuriyah.

“Kenapa? Habis dimarahin mama ya?” Bapaknya itu bertanya.

Alissa mengangguk dan mencoba membela diri.

“Mama kamu itu sudah banyak berkorban buat Bapak. Ia rela mendampingi Bapak dalam kondisi ketika Bapak tidak punya uang, Bapak kesusahan, dan ketika Bapak mendapat masalah apa saja. Dengan segala pengorbanan yang sudah diperbuat mama buat Bapak saja, kalian hukumnya wajib buat menghormati mama. Apalagi buat semua hal yang sudah mama kerjakan buat kalian.”

Pesan itu membekas sekali di hati Alissa. Selain sebagai nasihat personal, amanat Gus Dur itu adalah penghargaan yang amat tinggi kepada perempuan.

Salah satu passion terkuat dari Alissa Wahid adalah leadership development. Ia meyakini anak-anak muda sebagai masa depan Indonesia. Semakin kencang mereka dipupuk, semakin cepat potensi mereka berkembang, maka akan semakin baik. Sebagai salah seorang anak muda yang merasa beruntung sedikit kecipratan “didikan” dari Mbak Alissa, saya yakin betul kalau salah satu keunggulan Alissa dibanding Gus Dur adalah kemampuannya mengorganisasi segala sesuatu. Di tengah segala kesibukannya menghadiri undangan ke berbagai negara, berkeliling Indonesia untuk mengisi langsung materi kelas pemikiran Gus Dur, serta menjalankan bakti kepada Ibu Sinta Nuriyah Wahid di Ciganjur, Alissa terkadang masih sempat mengadakan training Seven Habits ala Stephen Covey. Ia merasa puas melihat anak muda berkembang wawasannya, makin percaya diri, dan makin siap menggerakkan komunitas masing-masing.

“Ketika saya kuliah di UGM, pernah Mas Zastrouw menyusul saya. Ia bertanya apa saya masih punya uang. Saya jawab tidak punya. Kata Mas Zastrouw, ia sudah menduga. Gus Dur saat itu sempat punya uang tapi pasti malah nggak dikasih ke anaknya. Uangnya buat orang lain, buat gerakan.”

Satu pengalaman yang selalu pahit dikenang Alissa adalah masa-masa terakhir Gus Dur berkunjung ke rumahnya di Yogyakarta. Gus Dur, saat itu bertanya, “Lis, Bapak boleh pinjam uang?” dan mirisnya, ia menambahkan,”lima juta saja, Lis. Buat pegangan.” Seketika Alissa sambil sedikit marah lalu menangis menelpon ketiga saudaranya yang lain. Dalam kecamuk pikirannya, kok bisa sampai Bapaknya nggak punya uang sama sekali.

“Tetapi, saya selalu senang menjadi anak Gus Dur yang aktivis. Kami jadi terbiasa mandiri.”

Hari terus beranjak sore. Kami semua antara takjub semi haru mendengar kisah yang dituturkan Mbak Alissa. Selain itu, sejujurnya, konsentrasi kami mulai terbelah pada gelas-gelas cendol berembun di meja sebrang, teh hangat, gorengan, dan pempek.

Sebentar lagi sudah masuk waktu berbuka puasa.

Bana menyela percakapan yang menjadi begitu serius.

“Emmm Mbak Alissa, ngikutin soal Afi nggak Mbak?”

“Ya…tentu saja.”

“Gimana pendapatnya, Mbak?”

Saya tak sabar mendengar pendapat Mbak Alissa, sebab beberapa waktu terakhir, bersama Agus dan Prima, kami semua selalu berbeda pendapat tentang si bocah Banyuwangi yang mau tak mau mesti kita respons isunya ini.

“Buat saya Afi itu tetap anak yang keren.”

“Tapi, tentang isu plagiat itu bagaimana, Mbak?”

“Ya, bahkan meskipun ia diisukan plagiat, bukan berarti ia jadi bodoh. Ia mampu membaca banyak, lalu mampu menemukan bacaan yang ia anggap bagus dan memahaminya, kemudian ia menuliskannya kembali.”

Saya masih tidak terima dengan jawaban Mbak Alissa. Memosisikan diri sebagaimana para haters yang suka mencari-cari kesalahan Afi, saya menimpali, “Tapi, sekarang Afi mulai ngartis lho, Mbak. Ia menyebut para komentator di akunnya dengan sebutan fans dan haters.”

“Ya, apa yang kita harap dari seorang gadis remaja? Kedewasaan seseorang itu tidak bisa dishort-cut. Buat saya pribadi, secerdas apapun anak-anak, dalam hal mental dan psikologis perkembangan dirinya, prosesnya sama saja. Hal itu juga yang saya terapkan pada anak saya. Suatu ketika, ia meminta ijin buat memainkan games 18+ atau jenis-jenis tontonan orang dewasa sebab ia merasa sudah jenuh menyimak obrolan anak-anak seusianya di komunitas gamers. Saya tidak mengijinkan. Terkadang, ia mencoba meyakinkan saya bahwa ia bisa bertanggung jawab selayaknya orang dewasa. Saya tetap tidak memberi ijin. Ia harus berproses dengan wajar.”

Dalam kasus Afi, barangkali, pada awalnya orang-orang dewasalah yang menginginkan Afi menjadi anak ajaib yang bisa bicara apa saja, lalu, orang-orang dewasa itu kecewa dengan fakta-fakta yang tidak memenuhi ekspektasi mereka, lalu, mereka kembali melempar kesalahan dan merundung seorang anak beramai-ramai.

“Orang dewasa kita yang punya masalah serius di dunia maya. Saya bisa memberikan banyak contoh lain sebab saya ikut mendampingi beberapa korban perundungan bersama koalisi masyarakat anti persekusi. Ada datanya.”

Bedug bertabuh.

Mata kami berbinar dan segera beranjak untuk buru-buru menenggak es cendol. Sambil menikmati segala makanan yang dihidangkan tanpa sungkan, Mbak Alissa sempat cerita kisah-kisah yang hanya mungkin dipahami oleh orang NU, seperti eyang buyut dan eyang kung (Mbah Hasyim dan Gus Dur) yang hiiiiiy sering hadir, ngapain hayooooo? Rahasia lah, buat kalangan terbatas.

Setelah salat magrib dan berpoto bersama di ruang tamu, kami pun pamit pulang.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.