Mbah Kakung dan Mbah Putri

MBAH KUNG.

Ibuku adalah anak semata wayang yang lahir setelah 21 tahun pernikahan. Saat itu, kata Mbah, ia benar-benar tidak menyangka akan dikaruniai keturunan. Ibu kehilangan bapaknya atau mbah kung saat kelas 3 SD dan sejak itu hingga sekarang, mbah putri tidak pernah menikah lagi. Dengan demikian, mbah kung meninggal tahun 70-an. Aku hanya mendengar cerita tentangnya lewat tradisi lisan yang terus diwariskan. Katanya ia tinggi gagah, hidungnya mancung. Cerita itu dapat kupercaya sebab ibuku rupawan, jauh bila dibanding aku. Mbah kung bertemu dan akhirnya jatuh cinta dengan nenek yang merupakan juru masak di rumah Tuan Belanda yang kemudian berpindah menjadi juru masak ke dapur Nippon. Mbah putri sering kupaksa bercerita bagaimana ia menjalin kasih pada masa penjajahan dahulu. Mbah putri juga seseorang yang tiba-tiba berteriak ketakutan kemudian menutup semua pintu dan jendela saat mendengar lagu genjer-genjer dari film Gie yang kuputar lewat vcd player semasa SMP dulu. Sepertinya ia punya trauma berat dengan peristiwa 65.

Malam Jumat begini jika aku sedang pulang kampung, biasanya Bapak mengajakku ziarah ke makam Mbah Kung. Sosok yang hanya kudengar lakon hidupnya lewat dongeng itu. Bagaimanapun, ia adalah Bapak dari Ibuku. Dan seperti aku yang sangat mencintai Bapak, mestinya aku pun mencintai Mbah Kung. Bagiku seorang Bapak adalah pesona kegagahan yang bersahaja.

Tahun 70an hingga kini, dan makam itu masih ada serta senantiasa mendapat curahan cinta. Dikirimi tahlil dan sholawat dari keturunannya. “Biar kalau Bapak ndak ada nanti kamu ndak lupa dan juga terbiasa begini…” kata Bapak. Menantu Mbah kung, yang juga hanya mendengar kisah Mbah kung bagai dongeng. Cinta itu melampaui ukuran-ukuran dan segala bentuk, Nduk.

 

Mbah Putri.

Dunia maya memberi banyak pelajaran, utamanya tentang manusia-manusia yang barangkali tak punya power di dunia nyata, mengalihkan yang menurut Nietzche -the will to power-nya di dunia maya. Ada satu teman saya melepas jilbab sebab masalah hidup yang dihadapinya, dan yang lebih menarik ternyata adalah mengamati publik dunia maya berkomentar. Tentu, lebih banyak yang seolah tahu semesta pikiran Tuhan, dan menghakimi hidup teman saya itu hingga ia berkali-kali terpikir untuk bunuh diri.

Saya teringat nenek saya. Oh saya rindu betul padanya. Saya sering berpikir: Siapa nenek di mata Tuhan? Bagaimana nenek di mata Tuhan?
Berpikir hal sesederhana ini membuat saya makin yakin bahwa kita terlampau jauh untuk menjangkau semesta Tuhan.

Nenek saya telah menjadi remaja sejak zaman Belanda. Ia tidak pernah tahu bahwa peradaban manusia telah mewariskan huruf dan angka. Dua hal tersebut membuat dunia bergerak, berubah-ubah, dalam waktu yang sangat cepat. Ada buku-buku, banyak gedung dibangun, teknologi diciptakan, perdebatan politik digaungkan, keserakahan difestivalkan, bahkan Scarlett telah membintangi Film genre thriller “Lucy” yang amat berani merangkum semesta Tuhan cukup dalam sebatang Flashdisk. Tetapi, nenek tidak pernah tahu semua itu.

Kemarin, Inez Kriya bercerita bahwa kakeknya seorang Cina-Batak yang pedagang sejak zaman Belanda. Ia dongengi saya bahwa peradaban Cina telah ada di Indonesia sejak zaman Sriwijaya di Palembang dan jadi aneh mengapa etnis Cina sering dihubungkan dengan komunis. Hingga, kakek Inez dapat bercerita lebih banyak tentang kehidupan. Tetapi, nenek saya, sekali lagi tidak seperti kakek Inez.

Nenek adalah potret yang tepat seperti bayangan saya ketika menerima pelajaran sejarah saat SD tentang kerja rodi atau tentang romusha. Nenek adalah anak pertama dari keluarga miskin di zaman penjajahan. Teramat miskin. Ia menjadi juru masak di rumah meneer Belanda dan bercerita bahwa tuannya itu ditembak di depan matanya oleh Jepang ketika tiba-tiba datang. Tetapi tetap saja ia tidak mengerti apapun. Ia hanya tahu bahwa ia diupah beras dan beberapa sen, yang ketika sampai di rumah, adik-adiknya berebut memasaknya.

Nenek tidak pernah tahu soal perang dunia II. Ia hanya tahu bahwa Nippon sangat kejam. Nippon membunuhi tuan Belanda, memerkosa para istrinya dan dibuang entah kemana, dan Ratu Wilhelmina tiba-tiba tak terdengar lagi namanya. Saat pecah perang, ia lari menerabas hutan, mengarungi sungai bermalam-malam, menghindari bom dan senapan, terpisah dari sanak dan keluarganya.

Nenek juga tidak paham ketika Jepang pergi, negara kemudian merdeka. Nenek tidak paham mengapa pada tahun 1965 banyak orang saling membunuh. Ketika saya tanya, ia hanya balik bertanya,”Dulu itu kenapa ya Nduk kok ada perang yang katanya PKI jahat?” Nenek mengaku bahwa ia selamat dan hidup justru karena tak paham apapun dan tak ikut-ikutan. Ia hanya manusia yang mencari makan lewat jalan apa saja. Bayangkan, hanya mencari makan.

Nenek tidak tahu Soeharto naik. Nenek tak paham ada apa di tahun 1998. Hingga kini. Nenek adalah potret wajah-wajah bersahaja yang ada di buku-buku Olivier Johannes Rapp itu.

Nenek, sekira 24 tahun lalu memperoleh menantu Bapak saya. Barangkali Bapak adalah satu-satunya jembatan yang membangun spiritualitas nenek saya. Sebab Ibu, sama pula seperti nenek. Ia tidak disekolahkan. Jadi, barangkali Bapak sembahyang, dan lama-lama nenek ikut sembahyang. Itupun hanya al fatihah hingga kini yang ia baca sejak takbir hingga salam. Ma’rifat? Hakikat? Syariat? Ah. Bahkan nenek tidak tahu apa itu tauhid. Tak paham apa itu fiqh dan tajwid. Ia hanya tahu relasi Islam dan adzan.

Demi Allahu Kariiim.
Saya selalu bertanya: bagaimana nenek di mata Tuhan? Sebab jikapun ia sembahyang, saya haqqul yaqiin bahwa nenek pasti tak mampu mendefinisikan apa itu Islam. Yang ia tahu barangkali Islam yang sebatas perbedaan prosesi perkuburan -sebab ia Islam maka ia kelak jika meninggal harus dikebumikan dengan cara orang Islam.

Mengapa banyak orang hari ini mengukur-ukur kesalehan orang lain dengan berisik sekali, sedang nenek: tak berilmu, tak berjilbab, tak berdakwah. Ia hanya manusia yang mencari makan dan mengasuh Ibu hingga lahirlah pula saya kemudian.

Bagaimana nenek di mata Tuhan?

Yang saya yakin; Allah lebih Maha dari apa-apa yang mampu saya bayangkan.

Kangen

Masa kecil dulu, sampai lulus SD, aku tak bisa tidur tanpa digaruk-garuk punggungnya sama Mbah. Kupikir dulu mbahku kuat sekali, ia melakukan semua pekerjaan rumah karena ibu sibuk jualan di halte depan kantor Pln. Mbah mencuci baju, memasak, sampai mencariku ke rumah teman sambil bawa sapu lidi jika aku tak segera pulang lalu mandi padahal telah mepet waktu maghrib.
Sekarang Mbah sudah semakin sepuh. Lebih sering tidur. Penglihatannya makin pudar. Jika aku pulang ke rumah setelah berbulan-bulan tak pulang, kadang-kadang aku ingin langsung dipeluk. Tapi Mbah harus bertanya dulu, “iki sapa?” dan ketika kusebutkan nama, barulah ia memeluk sambil berlinang air mata.
Riwayat karir Mbah hanyalah seorang juru masak di rumah tuan Belanda dan Jepang, lalu buruh tani, buruh toko orang-orang Tionghoa. Mbah tidak pernah nyantri, selayaknya semua kaum proletar yang berasal dari keturunan yang biasa dan tidak diperhitungkan sejarah, tapi Mbah rajin salat lima waktu. Pada tiap gerakan salat di semua rakaat, bacaannya hanya alfatihah lalu bismillah bismillah bismillah sebab hanya bismillah bismillah bismillah yang ia bisa sejak diajarkan oleh Bapakku, satu-satunya mantunya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.