Selamat Ulang Tahun, Agus Mulyadi

“Kalis, aku deg-degan sekali.”

“Pede saja, Mas. Mereka ngundang Mas karena Mas keren buat mereka.”

“Kalis, aku sungguh nerves sekali.”

“Mas, Mas sekarang adalah redaktur di sebuah media yang sangat populer dan dianggap punya pengaruh. Bargaining position Mas cukup kuat. Sudah sana berangkat dengan kepala tegak.”

Lalu saya bercerita bahwa dalam pertemuanku dengan Mbak Iin Yumiyanti, Pemred Detikcom, Mbak Iin sempat membagi pengakuan yang buatku cukup bikin terkejut. Dulu, era 80-an dan 90-an, ketika membicarakan tulisan bagus, indikator yang dipakai pasti adalah tulisan-tulisan Goenawan Mohamad. Semua orang berlomba-lomba menjadi sama seperti GM, mengekor GM, berusaha keras membaca apa yang dibaca GM, atau minimal bisa bergabung dalam sebuah forum yang membicarakan GM. Mbak Iin cukup kaget bahwa ternyata ada masa di mana media seperti Mojok, yang memiliki corak gaya tutur yang khas, yang berlawanan dengan bangunan ukuran-ukuran soal tulisan atau media yang punya dasar pakem, tiba-tiba muncul dan mencuri perhatian nasional. Ini bukan lagi soal bagus atau tidak bagus. Ini soal zaman. Mojok lahir bersama zaman. Demikian pula penulis berkarakter semacam Agus Mulyadi.

Akan tetapi, seperti yang sudah kuduga.

Siang keesokan harinya.

“Wah, Mas Agus, keren banget tadi jadi moderatornya. Pak Yanuar sampai kelihatan puas sekali. Semua di forum jadi fokus dan seger. Nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada Mas Agus.” Seorang staf Kantor Staf Presiden, yang menyelenggarakan acara tak henti memuji-mujinya. Mereka memohon agar Agus setidaknya mengisi di dua kota lainnya lagi. Agus menolak. Alasannya, sebab jadwal kantor Mojok kini kian padat.

Agus Mulyadi adalah tipikal orang yang selalu bisa mengendalikan keadaan. Banyak orang berpikir, hidup Agus penuh keberuntungan. Mereka hanya menikmati cerita-cerita ala success story seorang lulusan SMA yang kini dapat bekerja dalam sebuah komunitas yang berisi orang-orang cendekia. Sebagian orang menyangka, itu karena ia lucu. Lebih banyak orang lagi masih menyangka, bukan materinya yang lucu, tapi lihat Agus saja sudah lucu.

Menurut saya, itu karena Agus jujur. Agus selalu bisa mengukur-ukur dirinya sendiri. Ia mengusahakan sesuatu dan memprediksi hasilnya. Perhitungannya cukup meyakinkan, meski seringkali perlu digenapi ketika ia sengaja menyisakan ruang kosong. Selebihnya, ia selalu jujur dan bisa dipercaya. Iya, itu salah satu sifat dasa dharma Pramuka. Pada dua sifat itu saya kerapkali terperosok dan diuji berkali-kali olehnya. Saya kerapkali tidak jujur dan tidak bisa dipercaya. Saya kerap meninggikan perhitungan. Kerapkali saya meleset pada beberapa rencana, peristiwa dan tanggung jawab. Dan sekuat tenaga meyakinkan diri saya sendiri bahwa seharusnya saya bisa lebih baik lagi.

Agus jarang membenci sesuatu. Satu diantara sedikit hal yang ia benci adalah satu gerai makanan Fastfood di perempatan Terban. Restoran yang tepat berada di persimpangan lampu lalu lintas, berseberangan dengan salah satu swalayan paling terkenal di Yogyakarta itu cukup besar. Orang-orang yang makan di dalam resto itu terlihat dari luar sebab bangunannya keseluruhan berornamen jendela kaca.

“Tapi kan Mal Mal di Jogja juga banyak, Mas. Orang-orang susah juga sejak dulu pasti nyesek lihatin banyak mobil seliweran di Mal.”

“Ya tapi nggak dibikin sengaja juga makan di dalam kotak kaca dan pede dilihatin orang dari luar gitu. Bayangin orang-orang yang lagi kepanasan dan nggak punya duit hari itu lihat orang lagi makan dari kaca gitu.”

Hhhhh. Ya, ya, ya. Di banyak kesempatan, nalar logisnya susah dikejar. Dan meskipun sekarang dia sudah tampil lumayan kemaki dengan laptop gambar apek krowak, tas ala-ala intelektuwil, sepatu dan kemeja, saya kira, ia tak pernah berubah. Tolok ukurnya adalah kecintaannya pada teman-temannya. Jika ia masih mendokumentasikan dialog gojekan gentho ala teman-teman desanya, dunia ini masih aman dan tidak cukup pengap hanya dengan sesak gempita berita politik.

Tapi, kenapa saya tidak boleh bungkus sisa makanan di restoran Bumbu Desa? Begini, Agus benci tempat makan mahal, apalagi jika tempat makan yang mahal itu ramai (baca: ramai mobil mahal yang parkir di depannya). Dia sulit sekali dirayu buat makan di tempat semacam itu. Suatu kali ia terdesak karena terlanjur kepalang janji. Saya mau makan di restoran Bumbu Desa karena alasan: penasaran. Ya, penasaran saja. Sampai lokasi, olala, ternyata restoran itu adalah tipikal tempat makan yang membuat makannya tidak selahap ketika makan ayam goreng jelantah di lesehan Wonosari.

“Mas, ikan guramenya masih sisa banyak. Saya bungkus ya. Lumayan, bisa buat makan di kos.”

Agus menggeleng.

“Kenapa sih nggak boleh mbungkus?”

Saya tahu, dalam hati Agus bilang begini: Kalis, meski restoran ini mahal, aku sanggup membayarnya. Kamu jangan mengurangi kepuasanku membayar dengan membungkus sisa makanan.

Hih. Oke kalau itu prinsipnya. Tapi kan, ikan gurame asam pedasnya besar sekali dan masih sisa banyak. Saya mau bawa pulang buat makan malam kan lumayan ekonomiiiiis.

Selamat ulang tahun ya, Agus Mulyadi.

Besok-besok kita jalan-jalan lagi. Lihat-lihat berbagai bentuk rumah di Sepanjang Drono, mengomentari kelakuan pesepeda motor yang norak-norak, dan makan di tempat menyenangkan yang tidak bikin gengsi.

 

 

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.