Tak Ada yang Berubah di Tanah Ini

Pukul 13.00.

 

Sudah sejak sepuluh menit lalu, seorang lelaki tua berusia lebih dari tujuhpuluh tahun itu berdiri mematung di bawah sebuah monumen sederhana yang terletak di sudut halaman depan sebuah SMP Negeri. Diamat-amatinya dengan seksama monumen yang setiap hari hanya menjadi benda mati bagi siapa saja yang melewatinya. Segaris ke atas tempat lelaki itu menyeka keringatnya, bendera merah putih berkibar-kibar dengan semarak. Angin musim kemarau kering. Kota miskin di jalur pengunungan kapur Kendeng ini sudah mulai kekurangan air.

Monumen bertinggi tak lebih dari tiga meter itu berwarna kusam berlapis semen biasa. Barangkali, hanya sengat matahari dan rintik hujan yang gigil, kawannya melantun doa. Sesekali tangan keriput lelaki itu mengusap-usap muka monumen dengan penuh kasih, bagaikan mengelus wajah anak semata wayangnya. Sebentar kemudian, napasnya makin berat. Hari begitu terik.

***

“Dana block grant dua ratus juta dari Kementrian pusat? Bagaimana bisa Bapak mendapatkannya?” Seorang laki-laki berkumis tebal nampak keheranan dengan proposal di hadapannya. Berulang kali ia mengamati wajah lelaki dengan rambut dan jambang yang telah memutih yang kini berada di hadapannya.

“Saya mengelola perpustakaan gratis. Siapa saja boleh membaca dan meminjam buku secara gratis.” Jawabnya dengan tanpa ragu. Semangatnya jauh lebih muda dari usianya.

“Perpustakaan? Dimana?” Lelaki berkumis itu, sang kepala kantor, menekan puntung rokoknya ke asbak sambil memajukan badannya agar lebih dekat ke wajah lawan bicaranya. Ruangan ber-AC bukan alasan untuk tidak menyulut kretek.

“Disana. Di pojok kota sekitar dua kilometer barat daya alun-alun.”

Hening. Terdengar deru napas keduanya dan detak jam dinding di ruangan kantor dinas pendidikan Kabupaten itu. Si lelaki berseragam keki nampak berpikir keras. Sementara pria tua di hadapannya mencoba tenang walaupun juga sedang harap-harap cemas.

“Hmmm…,”Sang kepala kantor menembakkan pandangan sambil memainkan pulpen di sela-sela jarinya,”Saya bisa membantu Bapak mendapat surat pengantar untuk dapat mencairkan block grant ini. Tapi ada syaratnya.”

Pria tua itu tak menjawab. Tatapan mata lelaki yang jauh lebih muda di hadapannya itu mengingatkannya pada bayonet yang sempat menyerempet pelipisnya berpuluh tahun silam di era revolusi. Nyeri.

“Begini. Mungkin kantor kami akan meminta bagian 20% dari dana ini setelah nanti cair dari Pemerintah Pusat. Bagaimana? Bapak setuju?” Ia mengakhiri kalimat dengan begitu mantap.

Kali ini, bayonet itu benar-benar tembus ke ulu hati. Membarah.

“Tidak.” Sahutnya mantap sambil keluar dari ruangan tanpa permisi.

Bekasi, tahun 1998.

“PKI! PKI!PKI!” Orang-orang bersorak sorai dan mengaraknya hingga ujung gang perumahan. Lelaki itu, bersama istri dan anak laki-lakinya yang masih berusia enam tahun.

“Komunis! Kamu komunis!” Warga berteriak-teriak kesetanan. Mengolok-olok ia dan keluarganya yang makin tak berdaya setelah warung dan rumahnya dibakar dan dihancurkan oleh militer.

Habis semuanya. Tak bersisa.

Ia tahanan politik 1965. Masa dimana situasi politik Negara memberangus semua buah pikir dan menjegal semua gerakan dan perlawanan yang tak sejalan dengan nafsu pemerintah yang berkuasa. Kritik kostruktif berbuah tindak represif. Intelektualitas ditukar dengan kekerasan fisik. Bersama kakaknya, yang kemudian terpisah, sebab kakaknya berpindah-pindah lima penjara. Empatbelas tahun kehidupan yang sama sekali tak manusiawi. Makan dicombor bagaikan binatang ternak, tak jarang memakan bangkai tikus dan apa saja yang lewat di hadapannya semata untuk memperpanjang lakon kemanusiaan. Baginya, hidup adalah perjuangan. Ia yakin ada masanya ia akan keluar dari penistaan dalam tahanan untuk kemudian mengubah keadaan. Apa saja, yang harus diubah.

“Saya bukan PKI! Saya bukan PKI!” Teriaknya lantang membelah langit kota yang sudah merah padam. Kerumunan warga terhenyak. Bekas tahanan politik 1965 itu melepas celana panjang yang dikenakannya di hadapan semua orang.

“Saya tidak Pake Kolor Item!” Suaranya parau. Ia memang kalah. Namun tidak pernah menyerah.

Tak ada lagi yang tersisa di Ibu Kota. Ia pulang ke kota kelahirannya. Menziarahi rumah tua yang pada tahun 1930 hingga 1950-an adalah tempatnya melukis tawa jujur kanak-kanak tanpa pernah bermimpi tentang rezim darah yang suka memfitnah dan membunuhi manusia.

Rumah di pojok barat daya Kota itu adalah rumah sederhana dengan dinding kayu jati bercat kapur putih. Foto-foto tokoh tergantung di ruang tamunya seperti Tirto Adhi Soerjo, Kartini, hingga Multatuli. Di pojok-pojok ruangan nampak warna coklat, jalur air hujan yang merembes hingga meninggalkan jejak semacam arus sungai. Mengingatkan orang pada kali kampung yang suka meluap-luap pada bulan-bulan akhir tahun.

Halamannya luas. Pohon pisang, pohon jambu merah, pohon mangga dan banyak lagi sayur-sayur merambat ramai berdesakan di pelatarannya. Ia sengaja menanam apa saja yang dapat bertumbuh dan hidup. Baginya, alam adalah satu-satunya yang dapat menjadi sahabat. Alam tak pernah mendakwa. Juga tak pernah bercuriga.

 

 

“Agama Bapak apa?”

Dua lelaki berseragam keki yang mengaku sebagai pejabat pemerintah kota datang ke rumah tua itu. Di tangan keduanya menenteng sekeranjang parcel berisi buah-buahan dan juga biskuit. Si pemilik rumah sedang duduk-duduk di perpustakaan yang dikelolanya. Sebuah ruang berukuran 5×5 meter di sisi barat rumah utama dipenuhi buku dan Koran-koran dari berbagai zaman. “Bacalah! Bukan Bakarlah!” Begitu tulisan yang digores cat berwarna merah di pintu masuk.

Paginya tenang dengan deret bacaan, sebelum kemudian tertegun pada kalimat pertama yang dilontarkan oleh kedua tamunya ini.

“Saya islam.” Jawabnya lugas. Kalem.

“Islam apa?” Seorang yang bertubuh menjulang seperti tak puas dengan jawaban yang didengarnya.

Apa bukti bahwa Negara ini benar merdeka dan menjamin hak hidup? Hidup seperti apa yang dimaksud? Ia memang bekas tapol. Bukan sekali atau dua kali rumahnya digusur, dibakar. Dahulu militer telah merampas rumah dan membakar perpustakaan keluarganya bersama 10.000 buku dan koleksi naskah yang mereka miliki. Tak pernah ada sidang yang membuktikan keterlibatannya sebagai anggota partai palu arit. Ia dilepas begitu saja, tanpa pernah diadili. Dan manusia-manusia yang hidup disekitarnya, yang katanya dititipi hati dan nurani oleh Tuhan itu, tetap tak pernah sekalipun menganggapnya manusia. Meski berpuluh tahun telah berlalu.

Lalu untuk apa ia mengaku manusia beragama jika orang-orang tak lagi butuh pernyataan? Mereka hanya mendengarkan kebenaran mereka sendiri.

Ia komunis.

Ia atheis.

Hanya itu yang ingin mereka dengar.

“Saya dengar, Bapak ini doktor lulusan luar negeri?” Sambung seorang lainnya. Seorang yang mengaku kepala dinas pariwisata.

“Ya.”

Doktor yang tak pernah dianggap Negara. Tak berhak mendapat pekerjaan dimana-mana.

“Bisa saya lihat ijazahnya?” Si kepala dinas pariwisata berkeliling ruangan, daripada melihat-lihat buku, aktivitasnya lebih mirip dengan memeriksa dokumen.

“Kalau boleh saya tahu, ada kepentingan apakah Bapak-Bapak ini kemari? Saya kira langsung saja disampaikan.” Ia mulai gerah dengan serangkaian pertanyaan bodoh yang ditujukan padanya.

Ruang mendadak hening. Dua pejabat itu menyeret kursi plastik dan mengambil posisi duduk berhadap-hadapan dengan tuan rumah.

“Baiklah. Em…Begini, Pak. Tentang dana block grant yang Bapak dapatkan dari Kementrian pusat beberapa minggu lalu. Tentu Bapak tak ingin dana itu lewat begitu saja kan?” Bayonet kembali menggempur matanya.

“Langsung saja. Apa pokok permasalahannya.” Sergahnya. Dingin.

“Iya. Jadi apakah kita bisa bekerjasama? Barangkali Bapak berubah pikiran.”

Kedua tamu itu kini melempar senyum. Tidak manis. Senyum yang seakan berkata, “Ayolah…semua bisa diatur.”

Waktu melaju dalam kebekuan selama beberapa detik.

“Anggap saya adalah komunis. Tapi saya bukan koruptor.” Kalimatnya bergetar.

Dua pejabat itu geram. Kemudian, meninggalkan ruang perpustakaan tanpa permisi.

**

Aku menghampiri monumen itu. Sosok kakek bertinggi 163 cm yang sedari tadi memandang kosong ke jalanan sambil  menyandarkan tubuh tuanya itu telah pergi. Kembali memangguli mimpi bersama tumpukan huruf-huruf mati. Ia berjalan dan memasuki rumah tua di pojok kota yang sering nampak mistis. Kata orang-orang, rumah itu ditinggali oleh PKI.

Mastoer Imam Badjoeri

Pendiri Sekolah Boedi Oetomo tahun 1922

Motto Belajar, Bekerja dan Berdoa

Begitu tulisan yang dibentuk dari goresan benda tajam yang disayat pada permukaan monumen. Lelaki itu menziarahi ayahnya tiap hari, di monumen ini. Monumen yang mengabadikan nama ayahnya sebagai kepala sekolah pertama Institut Boedi Oetomo. Tempat dimana pertama kalinya kota ini mulai terbuka dengan pendidikan. Tempat dimana orang-orang dimanusiakan. Sejarah tak sering diingat orang-orang. Ia abadi bersama waktu.

Peristiwa demi peristiwa kembali. Mulai berlintasan lagi. Aku sandarkan tubuhku pada simbol sejarah yang menyelami hiruk pikuk sendiri ini. Asap kretek berkejaran di udara. Seperti pil-pil kepahitan yang ia telan di tanah tumpah darahnya sendiri.

 

*Terinspirasi dari kisah hidup Soesilo Toer, adik kandung Pramoedya Ananta Toer yang kini tinggal di pojok kota Blora, mengelola perpustakaan Pataba (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa). Doktor dari Rusia itu kini mempertahankan hidup dengan bercocok tanam apa saja di pekarangan rumahnya.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.