Gusdur dan Gus Mus Ada Di Mana-Mana

Sudah banyak tema yang rela dibagi oleh KH Husein Muhammad pada siang ketika beliau bersedia menjumpai saya di rumah Kang Marzuki Wahid, Cirebon, siang itu. Hingga sampailah juga pada satu tema lain, tentang Gusdur.

“Kalis baca buku-buku saya?”
“Alhamdulillah, beberapa saya baca, Buya. Kajian kitab Uqud Allujayn, Spiritualitas Kemanusiaan, Perempuan,Islam& Negara, dan Sang Zahid.”

Judul buku terakhir, Sang Zahid, adalah buku yang ditulis Buya Husein buat mengenang Gusdur. Bisa jadi itu adalah buku mengenang Gusdur yang paling saya sukai, melebihi buku biografi Gusdur yang ditulis Greg Barton, atau buku-buku antologi lain yang membicarakan Gusdur dari berbagai sisi. Sang Zahid menganalisis kesufian Gusdur, ditulis dengan bahasa mendayu-dayu tapi kaya sarian turats khas Buya Husein.

“Gusdur itu mengkritik dunia tempatnya hidup, tapi ia sekaligus bisa hidup di tempat yang ia kritik habis-habisan. Saya nggak mampu menjadi Gusdur. Ia unik luar biasa.”

Saya bertanya kepada Buya, adakah momen yang paling berkesan bersama Gusdur yang ia sukai.

“Aduh, terlalu banyak…”

Ada satu yang Buya ceritakan kemudian, termasuk tentang Gus Mus, sedianya saya tulis dan saya rencana kirim ke rubrik Bertamu Seru Mojok jika berkenan, tapi ternyata transkripnya lumayan panjang. Tapi lagi, kok ya kadung janji sama Mbak Ienas buat menyelesaikan.

Perjumpaan obrolan tentang kedua sosok Kiai itu kemudian muncul lagi ketika minggu lalu saya ikut dalam mobil yang membawa Pak Joko Pinurbo dan Mas Agus Mulyadi ke Semarang. Penyair dan penulis “nyentrik” itu akan mengisi seminar di FIB Undip Semarang. Saya sekalian ikut karena akan meneruskan perjalanan menengok Cak Rusdi.

Kami pikir, malam itu kami hanya akan mendengarkan Pak Jokpin bercerita tentang rasa ngefansnya pada Beni Satriyo dan juga pengakuan bahwa ia ingin merevisi cerpen “Jalan Asu” karena baginya cerpen itu terlalu sedih. Tapi, setelah bercerita tentang jadwal untuk membaca puisi di Hari puisi santri di TIM, akhirnya kami menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menyatakan kerinduan pada Gusdur dan Gus Mus.

“Bagian mana dari Gusdur yang paling njenengan kagumi, Pak?” Saya penasaran menggali jawaban Pak Jokpin, selain saya selalu suka mendengar pendapat siapapun tentang Gusdur.

“Aduh bagian mana ya… ”
“Gusdur sebagai penulis, sebagai pemimpin, atau… ”

Pak Jokpin terdiam.

“Nggak bisa dipisah ya Pak? Harus menyeluruh ya? ”

“Ya. Ketika membicarakan Gusdur kita sedang membicarakan satu sosok yang jenial yang tak bisa dipisah-pisah. Ia sebuah kesatuan pribadi yang akhirnya tampak begitu hebatnya.”

“Kenapa Gusdur jadi begitu hebat?” Saya masih terus mengejar.

“Semua orang yang tidak butuh apa-apa lagi tentang keduniawian selalu jadi Nabi. Dalam injil pun diteorikan seperti itu. Seperti Siddharta dan sosok-sosok serupa ia. Kau bayangkan saja, ada orang dicurangi intrik politik untuk kemudian diturunkan dari jabatan Presiden kok mau-maunya turun dari jabatan itu dengan mudahnya. Keluar-keluar kok dadah-dadah pake celana kolor lagi. Mau ditolong banser se-Indonesia, dia nggak mau, dan malah bilang, nggak ada jabatan di dunia yang patut dipertahankan mati-matian seumur hidup.”

“Gusdur itu tempat pulang buat semua orang tertindas. Ia beri senyuman di Aceh. Ia kembalikan martabat orang Papua setelah puluhan tahun.”

“Gusdur memerintah berapa lama, Lis?”

“Dua tahun, Pak.”

“Tapi warisan kepemimpinannya adalah segala pondasi yang setara dengan limapuluh tahun kepemimpinan.”

“Seandainya tak dihancurkan lagi oleh kepemimpinan-kepemimpinan berikutnya ya, Pak?”

Pak Jokpin bilang, saat ini tinggal Gus Mus tempat kita gandulan. Saya sempat mengajukan satu dan dua nama lain, Pak Jokpin tetap geleng-geleng.

“Tidak. Cuma Gus Mus. Saya tahulah sepak terjang nama yang kau sebut itu. Tidak mampu sampai kapan pun buat sampai ke maqam Gus Mus. Masih jauh sekali.”

Pak Jokpin jadi begitu melankolis ketika membayangkan bagaimana seandainya Gus Mus pergi. Saya jadi ikut membayangkan hal itu, tapi buru-buru saya tepis karena nggak pengen nangis di jalan. Sungguh sial karena Pak Jokpin mengajak kami membayangkan wajah terang Kiai Mus itu, mengenang keindahan puisi-puisi Gus Mus yang menurut Jokpin, bikin puisi sufistik itu banyak orang bisa, tapi jadi sufi sejernih Gus Mus itu soal lain.

“Gus Mus juga sangat indah ketika membaca puisi. Suaranya itu, aduh…”

Saya lalu membaca puisi Sidik Jari karya Gus Mus yang saya hapal di luar kepala, dan ternyata Pak Jokpin juga hapal lalu bersama berdeklamasi di mobil.

Keharuan di sepanjang Ambarawa itu lalu dipecah oleh Mas Agus yang mengajak membicarakan esai-esai sepakbola Gusdur. Pak Jokpin pun ceria lagi. Mereka berdua lalu asik berkelakar sepakbola dan saling membanggakan klub favorit masing-masing. Pak Jokpin bercerita tahun 90-an ketika tulisan Gusdur tentang Liga Champions dimuat di Tempo dan banyak dibicarakan orang.

“Tapi Gus, Lis, aku serius soal tadi. Indonesia ini negara aneh. Kita saat ini sama sekali tidak punya sosok pemimpin yang bagus, yang bisa dengan bangga kita sebut sebagai pemimpin. Ini negara jalan sendiri, mengkhawatirkan sekali. Tapi kenapa bisa bertahan, aku juga bingung…”

Agus lalu menyahut, jawaban yang membuat kita semua nggak yakin dia akan nyaleg lewat PKS, “Mungkin karena NU, Pak.”

“Iya betul, mungkin karena NU. Luar biasa memang.”

Gusdur dan Gus Mus, yang membuat kami merasa begitu malu memandangi diri kami sendiri itu lalu muncul lagi namanya, hari berikutnya ketika menengok Cak Rusdi.

Saya tidak menyangka dalam kondisi sakit, Cak Rusdi tetap ngangenin betul begitu.

“Nduk… Lis… Satu aja pesanku itu buat kamu. Kalau nulis soal agama, tensi emosimu diatur betul ya… ”

Pesan sejenis itu bukan pertama kalinya disampaikan Cak Rusdi pada saya.

“Kalau ada orang yang menyesatkan orang lain apalagi sampai menggunakan kekerasan fisik, kamu boleh marah. Tapi kalau cuma nggak sepakat sama tahlilan, kamu nggak boleh marah ya. Bapakku Pak Mathari itu orang Muhammadiyah Situbondo, tapi ia kemana-mana sama Almarhum Kiai As’ad. Kamu harus tahu di tema mana kamu harus marah ya Nduk…”

Saya cuma mengangguk-angguk sambil menciumi tangan Cak Rusdi.

“Aku punya banyak buku Gusdur. Ia pribadi besar betul. Kamu terus belajar biar bisa kenal Gusdur secara utuh ya.”

Saya terus memandangi Cak Rusdi yang matanya tiba-tiba berkaca-kaca.

“Nduk, beberapa hari lalu, Gus Mus kirim komentar di statusku. Aku kaget sekali. Aku senang sekali, Nduk.”

Ya, saya membaca komentar Gus Mus di status Cak Rusdi tentang kematian ayahnya.

“Nduk, kalau kau ketemu Gus Mus lagi, sampaikan salamku padanya ya.”

“Apa mau bertemu Gus Mus, Cak? Kira-kira apa mungkin Abah kemari ya?” Saya terus mengelusi tangan Cacak yang sepertinya dadanya dipenuhi kerinduan pada Gus Mus.

“Aku itu siapa, Lis. Aku jauh… Gus Mus itu tinggi.”

Mata Cacak makin berair, tapi saya temukan sekaligus seutas senyum samar. Ketulusan. Cinta. Sebuah keterangan yang cukup untuk menjelaskan penghargaannya kepada Gus Mus dalam sakitnya hari ini.

Salam dari Cacak hanya mampu saya sampaikan lewat Mbak Ienas dan Mas Ova. Rasanya pengen sapa Abah langsung, tapi saya harus belajar tahu diri pada mereka yang sudah lebih tua dan matang, yang mengajari saya banyak hal.

Saya pulang. Menaruh dalam hati semua kenangan obrolan dan rasa cinta yang makin membuncah-buncah buat Gusdur, buat Gus Mus.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.