Perempuan dalam Imajinasi Taliban

I

Buku yang akan kita bahas berjudul My Forbidden Face (yang diterjemahkan menjadi Wajah Terlarang). Konon, buku ini ditulis oleh Latifa, seorang gadis yang ketika ia menulis kisahnya ini masih berusia 16 tahun dan baru saja lulus SMA. Nama Latifa sendiri bukan nama asli, nama itu ia dapat ketika ia pergi ke Perancis untuk mengabarkan kepada publik Internasional perihal situasi di negaranya yang makin koyak, khususnya setelah pendudukan Taliban, atas undangan majalah Elle. Dan, sejak kedatangannya di Paris pada Mei 2001, Latifa, bersama ibu dan satu teman perempuannya tak bisa pulang kembali sebab dianggap telah berdusta dan melawan Taliban. Identitas tokoh utama sebagai perempuan remaja ini adalah daya tarik utama sekaligus point of view dalam keseluruhan alur novel Wajah Terlarang memaknai perang, kedaulatan sebuah bangsa dan kemerdekaan perempuan.

Ada beberapa karya sastra dan film tersohor yang mengulas kehidupan Afghanistan. Saya mungkin bukan pengulas yang baik sebab hanya membaca sedikit sekali. Saya tidak pernah belajar di jurusan Hubungan Internasional atau Kajian Timur Tengah. Saya hanya pernah membaca A Thousand Splendid Suns dan The Kite Runner karya Khaled Hosseini, dan novel perjalanan Agustinus Wibowo, antara lain Selimut Debu dan Titik Nol. Linda Christanty dalam Seekor Anjing Mati di Bala Murghab membawakan situasi subtil tentang seekor anjing milik bocah kecil yang ditembak Taliban. Latifa dalam novel ini sempat membawakan situasi serupa dalam novelnya, ketika melihat anjing mati, ketika mengemasi poster-poster di dinding rumahnya, ketika membuangi semua koleksi kaset lagu dan filmnya. Ada karya perempuan lain yang pernah saya baca, seperti Marjane Satrapi dan Azadeh Moaveni. Selain itu, saya juga baru menamatkan Salju di Aleppo karya Dina Sulaeman yang bercerita konflik Suriah, dan sedikit pengetahuan soal Revolusi Iran dari Nasir Tamara. Pengetahuan yang begitu terbatas itu kemudian saya tambah dengan menonton beberapa featured documetary bertema life under Taliban di youtube. Dari video-video dokumenter itu, saya memperoleh gambaran bagaimana situasi perempuan Afghanistan hari ini, termasuk bagaimana situasi penjara perempuan di Afghanistan. Bekal yang terbatas ini semoga memberi sedikit sumbangan ketika membangun situasi emosional saat membaca Wajah Terlarang.

Selain itu, banyak novel perang ditulis dari sudut pandang seorang eksil, yang menjadi terpelajar karena kebetulan kaya dan memilih kabur dari negaranya. Latifa lahir dari seorang ayah pebisnis dan ibu yang seorang ahli medis. Dua kakak perempuannya, Soraya adalah seorang pramugari dan Chakila adalah seorang jurnalis, sedangkan dua kakak laki-lakinya, Wahid adalah seorang tentara pemerintah (yang berhaluan komunis) dan Daud adalah seorang pelajar. Kondisi Latifa yang tetap berada di Afghanistan ketika perang berlangsung, tetapi dengan identitas profesi anggota keluarganya yang beragam itu, membawa nuansa khas dalam novel Wajah Terlarang.

II

Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang asing dan tidak ada kelebihan bagi orang asing atas orang Arab, dan tidak ada kelebihan bagi orang yang berkulit merah atas orang yang berkulit hitam, dan tidak ada kelebihan atas orang yang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah, kecuali dengan Taqwa. (Pidato Nabi Muhammad pada Hujatul Wada’ di Padang Arafah tahun 632 M. Kalimat ini disebut banyak orang sebagai pidato kemanusiaan atas HAM pertama di dunia).

Sejarah dunia adalah sejarang perang. Krisis kemanusiaan terjadi di Palestina, Suriah, Marawi, dan yang tengah ramai hari ini, Rohingya. Ekstremisme, yang berasal dari kata dasar ekstrem, diartikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai 1. Paling ujung (paling tinggi, paling keras, dan sebagainya); 2. Sangat keras dan teguh; fanatik. Abad demi abad memberitahukan pada kita bahwa ekstremisme yang mengatasnamakan agama ataupun kepercayaan tertentu, juga ekstremisme dalam wajah lain seperti kesukuan, warna kulit, dan yang lebih kompleks di zaman ini yakni ‘politik identitas’ selalu menimbulkan kekacauan. Ekstremisme dapat muncul di semua agama, di berbagai negara, di seluruh dunia, dan pada segala zaman. Taliban dan ISIS hanya salah satu bentuk ekstremisme yang brutal dan mengenaskan, dan sayangnya mengatasnamakan semangat Islam.

Afghanistan adalah negeri multietnis. Tiga diantara etnik yang disebut-sebut dalam karya sastra adalah Tajik, Pashtun dan Hazara. Tajik dan Pashtun mengklaim diri sebagai etnis asli Afghan, mereka merasa terhormat karena merasa sebagai keturunan bangsa Arya. Hazara adalah minoritas syiah yang secara perwujudan fisik berbeda dari keduanya.

Secara personal, saya berkeyakinan kita semua sangat berpotensi menjadi seorang, komunitas, maupun bangsa ekstremis. Lihat saja bagaimana sebagai Jawa kita mengagungkan bangsa Jawa dengan warisan peradaban moral yang tiggi, Sumatera mengagungkan bangsa Sumatera sebagai kaum agama dan kaum dagang yang sohor, maupun Makassar mengagungkan bangsa Makassar sebagai pelaut ulung. Begitu pun yang terjadi pada etnis-etnis di Afghanistan, yang sedikit banyak menyumbang triggers peperangan.

Latifa mengawali kisah dengan peristiwa penggantungan mantan Presiden Najibullah di depan markas PBB di Kabul oleh Taliban. Najibullah adalah orang Pashtun (etnis mayoritas yang harusnya tidak dimusuhi), tetapi ia merupakan kepala Dinas Rahasia Komunis Afghanistan. Najibullah dikudeta oleh coup Uni Soviet pada tahun 1989, yang kemudian menjadi bermulanya perang saudara di antara kaum Mujahidin pimpinan Ahmad Shah Massoud dan Gulbuddin pimpinan Hekmatyar.

Tahun 1996, ketika Najibullah digantung itu adalah penanda Taliban telah merangsek ke Kota Kabul, setelah sebelumnya menguasai Kandahar dan Herat dan sekitarnya.

Sehingga, novel ini melingkupi latar masa kepemimpinan Najibullah, masa perang saudara Mujahidin, dan kudeta Taliban.

III

“Mereka seusia denganmu, Latifa, sekitar limabelas atau enambelas tahun. Taliban menjadikan mereka sandera ketika pesawat mereka diserang oleh Taliban. Para Taliban itu, mereka terdiri dari lima belas laki-laki. Mereka memperkosa gadis-gadis itu, kelima belas orang itu. Sungguh mengerikan, memalukan. Namun, tak hanya itu saja yang mereka lakukan. Mereka…”

“Mereka memotong alat kelamin gadis-gadis itu. Mereka memotongnya.” (p.94)

Saya tidak tahu mengapa Taliban (dan ISIS, juga organisasi sejenis yang berafiliasi dengan pemikiran mereka), tidak suka dengan peran perempuan di sektor publik. Saya tidak memakai terminologi ‘misoginis’ atau ‘membenci perempuan’ sebab mereka pasti akan berdalih bahwa pemikiran mereka adalah upaya melangsungkan kemuliaan dengan perempuan sebagaimana dianjurkan oleh Al Qur’an dan Al Hadist.

Sejak Taliban memasuki Kota Kabul, perempuan wajib memakai cadar, dan bahkan jaring yang menutupi mata. Semua penutup itu tentu saja berwarna hitam. Para perempuan dilarang pergi ke penjahit laki-laki. Para perempuan muda tidak boleh bercakap dengan laki-laki muda meskipun di depan publik. Seluruh penduduk muslim tidak boleh mendengar musik meskipun itu adalah acara perkawinan. Bagi keluarga muslim dilarang mengambil foto ataupun video meskipun dalam perkawinan. Para perempuan yang telah bertunangan dilarang pergi ke salon kecantikan meskipun untuk persiapan acara perkawinan. Dilarang menamai bayi dengan nama yang tidak ‘islami’. Tidak ada satupun toko yang boleh menjual pakaian dalam wanita. Ketika seseorang sedang dihukum polisi, tak ada yang berhak memprotes apa yang dilakukan polisi itu.

Kementrian amar ma’ruf nahi munkar membuat perempuan yang keluar rumah sendirian akan dikenakan sangsi di hadapan publik atau bahkan ditembak. Semua kesalahan laki-laki maupun perempuan memang selalu berupa siksaan fisik di depan publik. Pendidikan untuk kaum perempuan dibekukan. Di video dokumenter yang saya lihat (produksi tahun 2014), perempuan-perempuan Taliban boleh belajar, tetapi hanya belajar menghafal Al Qur’an dan ilmu syariat saja. Fikih syariat apa yang mereka pelajari? Tentu saja adalah fikih syariat yang diproduksi oleh tafsir maskulinitas laki-laki. Fikih syariat semacam itu, biasanya diawali dengan pemahaman bahwa perempuan adalah ladang fitnah, oleh karenanya harus tertutup, harus dikurung dalam rumah.  Perempuan Taliban percaya bahwa perempuan tidak boleh bekerja, tugas mereka adalah melayani suami dan mengasuh anak-anak.

Persoalan yang muncul kemudian adalah membayangkan bagaimana masyarakat tanpa perempuan? Bagaimana jalanan dan sektor-sektor publik yang hanya diisi oleh laki-laki? Bagaimana perempuan yang sakit atau melahirkan yang tak boleh ditangani oleh dokter laki-laki sedangkan komunitasnya tidak memproduksi tenaga medis perempuan? Persoalan pendidikan dan kesehatan hanyalah beberapa hal yang belum menyangkut tafsir lain, seperti tafsir perkawinan yang kompleks itu (tafsir perkawinan dunia moderen akan sangat berbeda dengan tafsir skripturalis atas perkawinan, misalnya soal usia, pemilihan jodoh, rape culture dalam rumah tangga, kekerasan seksual, pembatasan jumlah anak, dan tentu saja poligami).

Cita-cita Latifa menjadi jurnalis terhenti sebab Taliban, sebab selain akses pendidikannya ditutup, televisi dan radio syariah pun hanya memberitakan perang dan kemenangan Taliban. Ibu Latifa yang seorang ahli medis dapat menceritakan banyak hal tentang bagaimana korban perang perempuan dan anak-anak mendatangi rumah mereka secara sembunyi-sembunyi untuk meminta pertolongan.

Masyarakat yang dihuni oleh laki-laki dan perempuan tentu saja harus diterjemahkan bersama-sama oleh laki-laki dan perempuan. Biologis dan psikologis yang berbeda antara perempuan dan laki-laki melibatkan struktur pemunuhan kebutuhan yang berbeda pula soal makanan, lingkungan, pendidikan, tenaga medis, kebijakan sosial, budaya dan politik. Pembatasan akses bagi perempuan dalam bidang pendidikan memiliki arti yang sejajar dengan membunuh rangkaian generasi sebab perempuan membawa rahim yang melahirkan anak-anak. Bayangkan saja, misal kebijakan pangan dan obat-obatan serta lingkungan yang tidak sensitif gender, lalu menciptakan generasi perempuan penyakitan, siapakah yang akan bertanggung jawab?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.