Cerita Tiga Sahabat

Cerita Tiga Sahabat

“…Belum lagi masalah umat itu sendiri yang sudah sekian lama ditelantarkan dan seolah hanya mempunyai fungsi sebagai alat pengukuh kedudukan belaka. Sekarang semua itu Bapaklah pemimpin puncaknya. Bapak “dipaksa” ndandani atau paling sedikit harus setiap saat menghadapi secara langsung kenyataan-kenyataan yang memprihatinkan itu.” (Surat terbuka Gus Mus kepada KH Ali Maksum tahun 1981 di Majalah Bangkit)

Setelah Gus Dur wafat, banyak dari kita, utamanya di Jawa yang mencari “ganti” nya pada sosok Gus Mus. Gus Mus, sosok yang pada tahun 1981 menulis surat terbuka yang begitu tegas kepada KH Ali Maksum Krapyak (mahaguru yang paling ia cintai) yang ketika itu jadi Rois Aam PBNU, lalu Gus Mus sendiri kelak juga menjadi Rois Aam pada 2010-an sekaligus menolak untuk menjabat posisi struktural tersebut lagi di Muktamar yang terakhir. Waktu-waktu yang berdekatan dengan berpulangnya KH Sahal Mahfudh yang enggan ia gantikan itu, sungguh rentetan jejak sejarah yang unik dan layak direnungkan anak-anak muda. Masya Allah, KH Sahal, ahli fikih yang cinta kemanusiaan itu, lekas-lekas pula ia meninggalkan kita semua terseok dalam kebingungan.

Pada acara taping Mata Najwa pekan lalu di pesantren Bayt Al Hikmah, Pondok Cabe, Prof Quraish Shihab dan Gus Mus memberi pengakuan bahwa perbedaan mereka dari Gus Dur adalah soal keberanian.

Prof Quraish mengabdikan diri di jalan ilmu pengetahuan. Beliau mengaji dan mengkaji ilmu Al Quran dan terus memperluas Pusat-Pusat Studi Al Qur’an. Bersama putrinya, Najelaa Shihab, Prof Quraish juga menghidupi berbagai lembaga pendidikan dan literasi seperti Yayasan Keluarga Kita, LivingQur’an dan Grup Penerbit Lentera Hati. Prof Quraish adalah mata air yang jernih, yang mengaliri jiwa-jiwa jahil.

Gus Mus, sosok Kiai yang memiliki sejuta enggan untuk menyanjung diri sendiri ini adalah Cs Gus Dur yang paling kental. Dulu, ketika Perhimpunan Pelajar Indonesia di Mesir membikin majalah, salah satu pengasuh Majalahnya adalah Gus Dur. Nah, kalau ada ruang kosong, Gus Dur “menugasi” Gus Mus untuk menulis puisi dan melukis. Bakat lukis Gus Mus memang terasah sejak ia mondok di Krapyak ketika sering berkunjung ke rumah-rumah pelukis. Affandi, salah satunya. Lalu, ketika Gus Dur menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 80-an, Gus Mus makin sering tampil sebagai penyair dan budayawan.

Prof Quraish juga mengaku hampir-hampir tidak pernah berbeda pendapat dari Gus Mus. Satu-satunya ketidaksetujuaannya pada Gus Mus adalah ketika pada Muktamar lalu ia menolak posisi paling penting dalam tubuh NU untuk dijabatnya.

Pada diskusi terbatas di Bayt Al Qur’an pekan lalu itu, para tokoh muda masih nampak sekali berapi-api untuk mendefinisikan apakah wasathiyah alias moderat itu. Barangkali, tokoh-tokoh muda masih terpercik dampak panasnya situasi akhir-akhir ini. Lalu, Prof Quraish memberi kesimpulan.

Wasathiyah, di tengah-tengah adalah:
1) Ketika kau mengetahui benar ujung kanan dan ujung kiri sehingga kau sadar posisimu. Ghuluw (berlebih-lebihan, dalam konteks bahasan radikal) itu tidak berarti kau berada di paling ujung kanan atau ujung kiri, berlebih sedikit saja dari posisi wasath, itu sudah ghuluw.
2) Wasath adalah ketika kau tidak lagi emosi. Tak lagi marah. Sabar.

Masya Allah.

Kalau Gus Dur tak perlulah kita tanya lagi kurang berani apa. Gus Dur dipuji sekaligus dicaci. Tapi barangkali jika sejuta makian yang mesti Gus Dur tebus untuk menyelamatkan satu nyawa atas nama kemanusiaan, ia pasti akan melakukannya. Gus Dur adalah pengamal ayat,”Wahai Manusia, Aku ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dan Aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal.”

Penggunaan kata Li taarafu pada ayat di atas itu setelah saya angan-angankan kok mirip penggunaan litaskunuu pada ayat perintah nikah. Saling mengenal, adalah memahami kebiasaan, tradisi, adat istiadat, pikiran, dan hasrat-hasrat lain. Li taarafu juga bisa bermakna menjadi arif dan bijaksana bagi yang lain.

Malam itu di Pondok Cabe, aku merasa Gus Dur hadir. Kali itu ia mungkin tidak tertawa seperti selalu nampak pada gambar sosoknya yang lain. Ia pastilah menangis. Memeluki dua sahabat terkasihnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.