Kang dan Adab Pesantren Dalam Menerima Tamu

“Kang Sambel Terong, suk mben awakmu menyang suwargo kanthi wasilahe terong ya.”

(Kang, kelak kamu masuk surga pakai wasilah terong ya)

“Yo ora leh Mbak… mbak, pokoke aku gandulan sarunge Abah.”

(Ya nggak to Mbak… Mbak, pokoknya aku gandulan sarungnya Abah)

“Lha lak mlorot piye sarunge Abah mbok gandhuli? Wong akeh sisan sing gandulan.”

(Lha, mlorot dong sarungnya Abah kalau diganduli. Mana orang banyak ikut gandulan sarung Abah semua.)

Salah satu tradisi kultural pesantren salafiyah tradisional adalah kang atau mbak ndalem. Kang yang pakai peci hitam itu khodimnya Ponpes Leteh. Kerjaan sehari-harinya selain nyantri adalah bikin teh jika ada tamu dan nyambel terong kalau ada acara mayoran atau nampanan.

Santri-santri di pondok pesantren memang ajaib. Ada santri yang amalannya menata sandal di mesjid, ada santri yang hobi membawakan kitab atau tas kiai, ada santri yang hobi menyapu halaman, mijitin Kiai, macam-macam cara mereka menempa diri.

Yang begitu itu bukan feodal coy, feodal mbahmu. Itu keinginan santri sendiri dalam rangka berharap berkah dan membangun karakter. Juga bukan menganggap Kiai sebagai waliyullah yang mengada-ada. Pada nilai yang paling falsafi, santri percaya bahwa ilmu tidak bisa ditambahkan tanpa adab kepada guru. Ilmu yang turun tanpa adab itu sebatas pengetahuan. Kalau sekadar pengetahuan, bisa kita lihat orang pintar jadi koruptor dan betapa banyak orang cerdas digunakan untuk menjebak orang lain.

Hari-hari idulfitri begini, kerjaan Kang makin sibuk. Kemarin, misalnya, di Ponpes Leteh, tamu yang hadir dari pagi sampai malam tidak berhenti, mulai dari naik kendaraan pribadi, pick up, bis sampai truk. Semua tamu-tamu itu harus dapat teh jahe semua. Ini jaminan mutu, soal adab menyambut tamu, pondok pesantren nggak ada lawannya, terbaik.

Saya ingat suatu ketika datang sendiri ke Leteh (waktu itu masih cupu), datang uthuk-uthuk matur pengen ketemu Gus Mus, meskipun Gus Mus nggak ada, saya dijagongi langsung oleh dua anak menantu Gus Mus. Dasar saya nggak punya malu, saya bertamu tiga jam dan dengan sabar anak menantu Gus Mus saya ajak ngobrol tiga jam. Tamunya nggak bawa bingkisan apalagi uang wkwkwkwk….

Kemarin saya bisa duduk dekat sekali dari hadapan Abah Gus Mus. Ribuan tamu yang hadir, Gus Mus salami sambil bibir beliau tidak henti merapal doa. Setiap anak kecil dielus kepalanya lalu diberi sangu. Setiap ada yang minta disuwuk kepalanya, beliau suwuk. Ada yang bawa air, beliau beri doa suwuk juga. Istimewanya, Gus Mus tidak memulai doa sebelum semua tamu dipastikan bisa duduk dengan nyaman dan mendapat teh. Gus Mus juga sempat meminta maaf, “Nyuwun pangapunten nggih, niki omahe saking gedene.” Gus Mus merendah. (Mohon maaf ya, saking luasnya rumah ini sampai nggak muat buat nampung tamu) .

Bandingkan dengan kita di rumah ya. Shift siang sudah capek, ya tutup saja rumahnya. Kadang ngeladenin tamu bicara lama-lama itu bosan dan timbul rasa gregeten di hati. Lupa kalau tiap tamu ada barokahnya wkwkwk…

Jadi, kalau bertanya darimana para Kiai itu bisa sabar betul meskipun dipancing-pancing dalam konstelasi politik atau dihina-hina orang yang serba hash prek itu, ya salah satu jawabannya adalah hal begini rupa. Nerima tamu puluhan ribu saja sabar. Puluhan ribu tamu itu semua membawa doa dan barokah. Barokah bahagia dan hati jembar ❤❤❤

Jadi, kalau cuma kamu, kamu, kamu yang nggak suka sama Kiai, aduuuuh, hempaskan manjaaaaaah.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.