Puisi Hidup Nyai Hj Masriyah Amva

Siang sebelum kembali ke kota masing-masing, kami sowan ke ndalem Nyai Hj Masriyah Amva. Telah tiga hari kami numpang di Pondok Yu Mas untuk mengadakan pelatihan kader ulama perempuan wilayah Barat. Kami dijamu dengan sangat baik untuk beristirahat, makan dan belajar di Kompleks Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy, Ciwaringin, Cirebon. Pondok itu memang didirikan di lahan bekas kebun jambu milik KH Mohamad, ayahanda Yu Mas.

“Terima kasih sudah diijinkan berkegiatan di sini, Bu Nyai.” Mas Dul Fahmina mewakili kami berpamitan.

“Saya yang justru berterima kasih sekali. Kalian telah berkenan berkegiatan di pondok ini. Kedatangan kalian adalah berkah bagi kami. Tamu adalah pembawa berkah Allah Swt.”

Yu Mas lalu bercerita hubungan baiknya dengan Yayasan Fahmina. Dulu, Yayasan Fahmina belum besar. KH Husein Muhamad sering menggunakan pondok ini untuk mengadakan pelatihan-pelatihan dengan banyak mitra seperti Komnas Perempuan, Komnas HAM sampai lembaga-lembaga luar negeri. Saya bilang silakan saja. Saya bismillah saja. Siapa sangka sekarang Yayasan ini sudah semakin dikenal orang. Kiprahnya di bidang isu HAM dan gender dan keislaman sudah semakin terdengar. Eh, ketika tahun lalu mengadakan KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia), pondok ini yang dapat berkah melimpah. Acara diadakan di pondok ini karena buah pertemanan selama bertahun-tahun. Pondok ini mendapat ribuan tamu yang alim billah. Itu berkah buat kami.

Yu Mas yang sendiri membesarkan Pondok Pesantren selepas sang suami wafat menulis puisi tiap kali merasa ingin menyerah.

Akulah kegelapan. Tapi Engkau Sang Maha Cahaya.
Akulah kelemahan. Tapi Engkau Sumber Kekuatan.

“Santri di pondok ini jumlahnya lebih dari 1500. Sebulan membayar 200 ribu untuk asrama, makan tiga kali, biaya gedung sekolah, semuanya. Sebagian besar orang tua mereka tidak mampu. Banyak yang titip begitu saja di pondok ini, tidak membayar. Karena niatnya tulus, kami terima. Makanya setiap kali saya bingung cari pembiayaan di mana, saya menulis saja. Saya lemah, tapi Allah yang mempunyai saya kan sumber kekuatan.”

Ketika akan menyelenggarakan KUPI, kami hanya punya satu deret kamar mandi yang tidak layak digunakan untuk tamu. Sama sekali tidak ada anggaran untuk pembangunan. Sepanjang jalan saya berdoa terus. Saya tidak tahu caranya, tapi saya iman saja. Eh, tiba-tiba ada sebuah Bank menelpon. Mereka menawarkan dana hibah. Dana hibah itu awalnya untuk pihak lain, tapi pemimpin pesantren itu sedang umroh sehingga tidak bisa ditemui. Lalu dengan ajaib, mereka menghubungi saya. Akhirnya terbangunlah deret toilet baru yang bisa digunakan untuk fasilitas publik ketika KUPI.

Beberapa ustaz muda di Ponpes Kebon Jambu menerbitkan buku untuk memandirikan pondok. Tetapi mereka sulit menjual buku-buku itu. Hanya cetak seribu saja, susahnya minta ampun.

Banyak Kiai yang masih menganggap perempuan tidak kredibel memimpin pondok pesantren. Dalam persoalan literasi, banyak Kiai yang belum terbuka pada semacam karya yang kami terbitkan. Kami menerjemahkan kitab klasik tentang mantiq, lalu kami susun ulang seperti buku paket pelajaran modern agar mudah digunakan untuk awam. Yang semacam itu banyak yang memandang remeh sebab dianggap tidak lagi otentik.

Aku lalu teringat pesan Buya Husein tentang problem utama pondok pesantren tradisional: Sakralitas teks dan sakralitas tokoh. Kedua hal itu membuat peradaban pesantren susah maju.

Akhirnya seribu buku terjual. Itu saja dengan catatan: nggak balik modal. Modalnya habis buat transportasi ke mana-mana dalam rangka mempromosikan buku.

Saya bilang ke santri, tidak apa-apa tidak balik modal. Seribu buku itu akhirnya diterima orang lalu dibaca semua, itu sudah untung sekali. Sudah berkah. Kita kan bertransaksi untuk ilmu Allah.

“Ketika itu sebetulnya saya sedih sekali. Mengapa saya ditolak justru oleh lingkungan terdekat saya. Mengapa yang sering menolong justru lingkungan yang jauh.”

Yu Mas sempat membacakan sebuah puisi yang saya lupa redaksi tepatnya. Tentang kehinaan adalah jubah manusia, dan kemuliaan adalah jubahnya Allah. Ia menulis kalimat-kalimat indah semacam itu ketika buku karyanya diledek-ledek.

“Kalian para penulis, saya tahu betul, dunia penulisan ini tidak mudah. Menulisnya bisa jadi mudah, tapi menjual tulisan itu sulit. Jadi sabar saja. Ikhlaskan semuanya. Iman saja.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.