Ning Hindun Anisah, Ulama Perempuan Indonesia Paket Lengkap Idolaku

Alkisah, ayat ke 35 dari Surat Al-Ahzab yang secara eksplisit mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan, turun setelah Ummu Salamah r.a mempertanyakan pada Nabi mengapa kaum perempuan dalam Al-qur’an tidak banyak dikisahkan sebagaimana kaum laki-laki. Tidak lama kemudian, Nabi berkhotbah diatas mimbar dengan mengatakan bahwa Allah SWT telah menurunkan ayat “Orang-orang Islam laki-laki dan orang-orang Islam perempuan, orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan, dan seterusnya. Kepada mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.” Laki-laki dan perempuan beriman yang disebut bersamaan, juga kadar ampunan dan pahala yang sama besar, menjadi penanda bahwa kaum laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang sama sebagai khalifah Allah, boleh memiliki kiprah dan memiliki dampak untuk masyarakatnya.

Prinsip di atas sangat berkesan buat Hindun Anisah. Ia prihatin dengan relasi kemitraan antara laki-laki dan perempuan yang justru menjadi surut pasca wafatnya Nabi. Sehingga, sejak muda hingga kini, pengasuh Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Mbangsri, Jepara ini memperjuangkan keadilan bagi hak anak dan kaum perempuan. Hindun Anisah melawan tipikal citra perempuan pesantren mainstream. Ia tidak hanya mendampingi suami sebagai kanca wingking, melainkan gila bersekolah, memimpin pergerakan perempuan, menyampaikan gagasan dalam forum-forum internasional, mendampingi anak-anak dan perempuan korban kekerasan, namun sembari tetap menyimak setoran tahfiz dan membaca kitab kuning di pesantren. Berikut adalah ulasan riyadhah Hindun Anisah, istri H. Nuruddin Amin, pengasuh PP Hasyim Asyari, Bangsri, Jepara.

 

*****

BEBERAPA tamu datang ke Omah Joglo di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari, lalu pertanyaan pertama yang terlontar adalah, “Bu Nyai Hindun ada di luar negeri atau di luar kota?” Pasalnya, para wali santri yang bertamu punya asumsi, pengasuh tahfidh al-Qur’an, Hj. Hindun Anisah, S.Ag, MA itu sering kali mendatangi acara-acara ke luar negeri. Terkadang, Bunda Hindun –demikian sapaan akrabnya–  memang sedang mengajar di Madrasah Aliyah Hasyim Asy’ari atau mengajar di UNISNU (Universitas Islam Nahdlatul Ulama) Jepara. Saat yang lain, Ketua Aliansi Pembelaan Perempuan dan Anak (APPA) Jepara itu, sedang mengadvokasi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, atau sedang mendampingi sidang di Pengadilan Agama kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Jika ditanya tentang Bu Nyai Hindun Anisah, kebanyakan santri akan berpendapat bahwa Bu Nyai Hindun itu super dahsyat. Aktif sebagai pengacara di KPAI juga instruktur di LKKNU, pokoknya, nggak ada capeknya!

Sejatinya, kesibukan mengajar dan mengadvokasi itu tidak pernah menggeser jadwal rutin Bunda Hindun menerima setoran tahfidh al-Qur’an para santri, yang dimulai dari jam 04.00 pagi sebelum subuh sampai sekitar pukul 06.30 setiap hari. Selepas ngaji itu, Bunda Hindun baru berkiprah di luar, mendampingi masyarakat. Para tamu dan wali santri memang terkadang datang, bertepatan dengan Bunda Hindun ke luar kota atau ke luar negeri. Misalnya, ketika Bunda Hindun dikirim sebagai pendakwah atas nama PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) selama bulan Ramadlan di Hongkong pada 2014.

Kebetulan hampir tiap tahun setelah itu, Bunda Hindun ada acara ke luar negeri. Bunda Hindun terpilih sebagai peserta pertukaran tokoh muda muslim (moslem exchange program) di Australia selama dua minggu pada Maret 2015. Tahun berikutnya (Juli 2016), Bunda Hindun terpilih sebagai peserta short course mengenai agama dan transformasi konflik (Summer Course on Religion and Conflict Transformation) di Drew University New Jersey, Amerika Serikat.

 

Ulama Perempuan

Suatu hari enam tahun yang lalu, seorang anak korban kekerasan datang ke pesantren diantar oleh teman Bunda Hindun. Gadis lugu itu baru saja lulus SD, tetapi wajahnya yang murung adalah narasi hidupnya yang sejak kelas 5 SD, setiap hari hampir diperkosa oleh kakak iparnya. Si gadis selalu bisa lari. Akan tetapi, ketika ia lulus SD, ibu kandungnya sendiri justru memintanya untuk melayani kakak iparnya agar mendapat imbalan materi yang berkecukupan bagi keluarganya. Ibunya memaksa dengan marah, kekerasan verbal dan kekerasan fisik yang menyakitkan. Gadis itu akhirnya lari, hingga akhirnya sampai ke pesantren asuhan Bunda Hindun.

 

Korban lalu diajak ke kantor polisi dan Pusat Pelayanan Terpadu Kabupaten (PPT) untuk meminta perlindungan dan meminta ijin tinggal di pesantren. Ia akhirnya dapat melanjutkan pendidikan MTS dan MA, dan kini akan kuliah di Semarang dengan beasiswa bidikmisi. Setelah serangkaian proses yang lama dan penuh keharuan itu, Bunda Hindun akan selalu ingat masa dua tahun awal ketika gadis korban masih mengalami trauma berat. Wajah murung hingga bahkan badan yang gemetaran ketika Bunda Hindun dan suami mengajaknya jalan-jalan ke Kudus dan melewati jalan raya menuju rumahnya. Syukurlah, Bunda Hindun tidak berputus asa. Bunda Hindun sering mengajaknya bercerita, sembari terus melakukan terapi konseling melalui pendidikan dan mengaji di pesantren. Korban juga pada akhirnya aktif dalam OSIS dan ekstrakurikuler pencak silat.

 

Satu dari beragam kasus itulah yang mendorong Hindun Anisah terus bersuara dalam kancah internasional maupun nasional. Bunda Hindun terlibat menggeluti isu-isu dialog lintas agama, pemberdayaan perempuan dan anak, serta pendidikan yang humanis dan multikultural. Kepedulian dalam isu-isu tersebut, menemukan spiritnya ketika mengingat kakeknya KH Ali Maksum (Rois Aam PBNU 1980-1984). Pak Ali –demikian beliau dipanggil oleh para santri–, yang pernah mengatakan sebuah harapan kepada putri beliau Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali (ibunya Bunda Hindun), “Aku pengin dadekke kowe ulomo wedok (Aku ingin mencetak kamu menjadi ulama perempuan.”

 

Obsesi Mbah Ali Maksum inilah yang ingin diraih oleh Bunda Hindun. Pernyataan Mbah Ali sebenarnya disampaikan dalam konteks kekecewaan beliau karena pilihan Nyai Durroh Nafisah untuk tahfidh al-Qur’an ketika belajar di Pondok Pesantren. Mbah Ali menganggap menghafal al-Qur’an itu hanya semacam “ketrampilan”. Seharusnya ulama perempuan memperkaya diri dengan penguasaan “kitab kuning.” Untuk mengakomodir obsesi ibunda dan kakeknya itu, Bunda Hindun akhirnya mewujudkan dirinya sebagai salah satu ulama perempuan.

 

Keulamaan Bunda Hindun ditempa dengan memulai tahfidh al-Qur’an semenjak usia Sekolah Dasar di Pasuruan, saat ia diasuh oleh Kakeknya KH Abdul Hamid Pasuruan. Lepas dari SD Islam Pasuruan (1986), Bunda Hindun sudah mengantongi 18 juz hafalan al-Qur’an. Aktivitas menghafal ini sempat terjeda untuk sementara belajar ilmu alat dan kitab kuning di Muallimat Tambak Beras Jombang (1986-1989). Pendalaman kitab kuning kemudian dilanjutkan di Madrasah Aliyah al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1992), dengan metode sorogan dan “shorof Krapyak” ala Mbah Ali Maksum, sambil melanjutkan tahfidh al-Qur’an sampai khatam di tangan ibunda Durroh Nafisah dengan sanad dari Mbah KH Moenawwir Krapyak Yogyakarta.

 

Saat masih pelajar, Hindun Anisah tergolong “maniak lomba”. Berbeda dengan model “Arwanian Kudus” yang “mengharamkan” lomba al-Qur’an, model Krapyak justru membolehkan lomba al-Qur’an untuk memotivasi hafalan dan pemahaman. Hindun mengikuti lomba Cerdas Cermat al-Qur’an (Musabaqoh Fahmil Qur’an) untuk tingkat Madrasah Aliyah, sampai tingkat nasional pada 1991. Hindun juga pernah menjuarai Seleksi Tafsir al-Qur’an Bahasa Arab Tingkat Nasional tahun 1993 dengan hadiah berangkat Haji ke Tanah Suci. Ini merupakan ibadah hajinya yang kedua, setelah hadiah ibadah haji pertama dari Ibu Nyai Nafisah Hamid Pasuruan saat Hindun Anisah menyelesaikan bangku sekolah dasar.

Lahir pada 2 Mei 1974, keterbatasan akses pendidikan untuk perempuan pernah Bunda Hindun alami ketika hidup di Pasuruan. Hindun kecil diasuh oleh Mbah Hamid Pasuruan yang terkenal sebagai waliyyullah dan memiliki karomah itu. Sadar dengan keterbatasan perempuan mengakses pendidikan dalam mainstream kehidupan di Pasuruan, mendorong Bunda Hindun memilih hidup di Yogyakarta bersama ibunya di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum. Kesadaran inilah kiranya yang menjadi titik tolak Bunda Hindun dalam memandang kehidupan serta terlihat dalam geraknya membidani kegiatan pendidikan di Jepara.

 

Dia melanjutkan pendidikan tinggi dengan menempa keilmuan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM, merangkap dengan Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) tahun 1992-1998. Paska menyandang sarjana, Perhatian Bunda Hindun fokus kepada pemberdayaan perempuan dan memperluas akses pendidikan perempuan.

 

*****

 

Pada17 September 1998, Bunda Hindun menikah dengan H. Nuruddin Amin, pria asal Jepara. Suaminya aktif sebagai Sekretaris PWNU DIY masa khidmah 1997-2003. Di tengah periode masa khidmahnya di NU, Nuruddin Amin terpilih menjadi Ketua Gerakan Pemuda Ansor DIY masa khidmah 2000-2005. Sang isteri, Hindun Anisah kemudian terbawa menjadi aktivis di NU. Hindun menjadi volunteer di Yayasan Kesejahteraan Fatayat (YKF) Yogyakarta 1998-2002. Perhatiannya kepada isu perempuan pun memperoleh wadah. Dia mulai membangun jaringan dengan berbagai LSM Perempuan di Yogyakarta.

Aktivitas LSM-nya tetap terpadu dengan semangat kuliahnya dan kapasitasnya sebagai salah satu pengasuh Pondok Pesantren Krapyak. Sambil tiap hari menerima setoran tahfidh al-Qur’an dan sorogan kitab kuning anak-anak santri, Hindun menjadi salah satu leader di Pondok Pesantren yang membidangi kurikulum. Pengalamannya di LSM menjadi penghubung dunia pesantren yang ia geluti dengan dunia di luar pesantren. Suatu ketika Hindun terpilih menjadi peserta Training for Pesantren Leaders yang diadakan oleh ITD Amherst University & State Department of USA. Dia mengikuti training selama 3 minggu pada tahun 2002 di Amerika Serikat, bersama-sama dengan sekitar 13 pimpinan pondok pesantren di Indonesia.

Perhatian kepada isu-isu perempuan juga mendorong Bunda Hindun mengikuti kajian-kajian fiqh an-nisa’ yang diadakan P3M Jakarta yang difasilitatori oleh Lies Marcoes dan fiqh as-siyasah yang difasilitatori oleh MM Billah. Kiprah Hindun di pesantren dan LSM diperkuat dengan menempa kapasitas akademiknya di Perguruan Tinggi dengan mengambil bidang studi Antropologi di Fakultas Sastra dan Budaya UGM. Disiplin Antropologi ini dipilih untuk membantu pemahaman masyarakat agar lebih komprehensif.

 

Pada tahun 2002, mertua Bunda Hindun, KH M Amin Soleh, pendiri PP Hasyim Asyari Jepara wafat. Setahun kemudian, diputuskanlah bahwa Bunda Hindun akan mengikuti suaminya untuk pindah ke Jepara. Dasar aktivis, sejak kepindahannya di Jepara pada tahun 2002, Bunda Hindun tidak puas dengan peninggalan pesantren yang baru memiliki MTS dan MA saja. Ia kemudian mendirikan Yayasan Semai yang membawahi PAUD Semai dan SD Semai, juga PAUD Averroes. Dengan mengusung misi menjadi sekolahnya manusia, Sekolah Semai Jepara berhasrat menjadi bagian dari model mikro untuk pendidikan berkualitas dan berharap menginspirasi munculnya sekolah-sekolah manusia lainnya sehingga akan menjadi makro dan membawa perubahan besar bagi pendidikan di Jepara. SD Semai adalah satu-satunya SD inklusi di Jepara yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus untuk ikut belajar bersama dengan setara. Yayasan Semai adalah kiprah Bunda Hindun yang menandai bahwa output pendidikan pesantren pun mampu menangkap kebutuhan zaman dan terus berkesesuaian dengan zaman.

 

Sentuhan pendidikan Bunda Hindun juga membuat pesantren memiliki nuansa yang khas. Berbagai media massa menyebut PP Hasyim Asyari sebagai “Pesantren Berbasis Kesetaraan Gender.” Para santri didorong untuk tahfidzul qur’an sambil sekolah madrasah umum, sebab kebanyakan di Jepara, santri tahfidz masih bersifat takhassus. Pengasuh pesantren memberi perhatian pada masing-masing kecerdasan dan potensi santri, hingga pada waktunya nanti, santri dapat diadvokasi untuk mencari beasiswa pendidikan yang lebih tinggi. Santri perempuan dimotivasi untuk mengadakan kegiatan-kegiatan kreatif seperti membuat kajian film setelah menonton film, juga difasilitasi dengan berbagai workshop kepenulisan, jurnalistik dan berbagai skill lainnya. Mereka juga didorong untuk mengikuti seminar tentang anak dan perempuan, sastra dan politik.

 

“Ketika fikih menjadi mainstream, yang muncul hanya sikap yang memandang suara perempuan sebagai aurat dan tubuh perempuan sebagai fitnah. Akhirnya, sejarah Nabi justru terlupakan. Aisyah adalah perempuan cerdas yang senantiasa berdialog menyuarakan aspirasi perempuan kepada Nabi. Kita tidak boleh melupakan konteks ketika fikih dibuat dan bahwa ushul fikih adalah metode. Kita tidak boleh mendistorsi fikih seolah kitab suci.”

 

Itulah sebabnya mengapa di waktu-waktu tertentu, Bunda Hindun juga rutin membacakan kitab Mausuah Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar karya Doktor Abdul Mun’im dan kitab Al Busyro fi Manaqib Sayyidah Khadijah Al Kubro karya Abuya Sayyid Muhammad Al Maliky kepada santri dan santriwati. Lewat cerita dalam kitab, Hindun memastikan agar fikih benar-benar ditegakkan di atas prinsip keadilan yang tidak membedakan eksistensi laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang berpikir, serta untuk memastikan bahwa perempuan tidak menjadi korban kezaliman dan kekerasan dari struktur sosial.

 

Beberapa waktu terakhir ini, sebagai Sekretaris RAHIMA (sebuah LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan), Hindun Anisah turut menginisiasi penyelenggaraan Konggres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pada 25-27 April 2017 yang lalu. KUPI yang diselenggarakan secara bersama oleh ALIMAT, RAHIMA dan FAHMINA ini dihadiri oleh hampir seribu peserta dan pengamat dari berbagai negara. Di antaranya: Mossarat Qadeem (Pakistan), Zainah Anwar (Malaysia), Hatoon Al-Fasi (Saudi Arabia), Sureya Roble-Hersi (Kenya), Fatima Akilu (Nigeria) dan Roya Rahmani (the Ambassador of Afghanistan in Indonesia).

Kongres Ulama Perempuan yang disebut Menteri Agama Lukman Hakim sebagai “pertama sedunia” itu berhasrat meneguhkan peran keulamaan perempuan bagi kemaslahatan umat. Rekomendasi penting konggres yang berlangsung di Pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan Ciwaringin, Cirebon ini adalah seputar pencegahan kekerasan seksual yang masih sangat memprihatinkan, pencegahan perkawinan anak yang dampaknya sangat merusak dan pencegahan perusakan lingkungan dalam perspektif ketimpangan sosial.

Terkait perkawinan anak, KUPI 2017 memberi rekomendasi kepada negara untuk mengubah (mengganti) pasal dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yakni agar usia pernikahan minimal untuk perempuan diperketat, dari semula 16 tahun menjadi 18 tahun. Di Indonesia, selain karena faktor doktrin agama, perkawinan anak usia dini terjadi karena faktor keterbelakangan ekonomi dan tradisi sosial keliru yang terus menerus dianggap wajar dan dilanggengkan. Gadis yang hamil diluar nikah kemudian dinikahkan bahkan dengan pria yang memerkosanya. Sesat tradisi itu bukan solusi, sehingga para ulama perempuan berpendapat, mencegah perkawinan dini dilakukan karena kemudarotan yang muncul jauh lebih besar dibanding manfaatnya, sehingga wajib hukumnya untuk mencegah perkawinan anak usia dini.

 

Bunda Hindun pernah melakukan penelitian regional Asia Tenggara bertajuk Islamic Family Law and Justice for Muslim Women. Penelitian yang disupport oleh Ford Foundation ini, mengkritisi putusan-putusan Pengadilan Agama di Negara Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina, mengenai posisi perempuan di mata hukum keluarga Islam baik dari kacamata Hukum Positif dan Hukum Fiqih Klasik. Hasil penelitian sempat dipresentasikan di Forum Internasional di Kuala Lumpur Malaysia tahun 2001. Sebagian hasil penelitian ini diterbitkan dalam bentuk buku oleh LBH APIK dengan judul Posisi Perempuan dalam Hukum Islam di Indonesia (2005), dengan penulis Hindun Anisah dan Ratna Batara Munti.

Relasi yang adil antar komponen bangsa, dipandang penting oleh Bunda Hindun dalam menjaga ketahanan dan keamanan sebuah bangsa. Oleh karena itu, Hindun senantiasa memperjuangkan kesetaraan gender dan keadilan masyarakat secara umum. Dalam sebuah kesempatan, Hindun Anisah dikirim oleh Ford Foundation sebagai peserta Training Non-Traditional Security di Nanyang Tecnology University (NTU) Singapura, yang diselenggarakan oleh S. Rajaratnam School. Faktor keamanan masyarakat, dalam training itu ditegaskan, sangat dipengaruhi oleh ketimpangan sosial yang disebut dengan non-traditional security.

Basic teoritik untuk berkiprah di masyarakat, terus menerus diperkaya oleh Bunda Hindun. Dirinya tidak mudah puas dengan ilmu pengetahuan pesantren dan kuliah di dalam negeri. Ketika ada kesempatan dari Ford Foundation untuk kuliah pasca sarjana, dengan seleksi yang ketat, Hindun Anisah berhasil meraih beasiswa untuk menempuh studi Master of Art program Medical Anthropology di Amsterdam University, Netherland. Tesis yang telah selesai dipertahankan berjudul Madurese Muslim’s Rituals prior to Sexual Intercourse (Ritual Pra-HUS Masyarakat Muslim Madura).

Teori ilmu pengetahuan yang diperoleh dari kuliah di Amsterdam University ini, sangat terkait dengan bagaimana seseorang melihat kesehatan reproduksi perempuan. Masalah kesehatan reproduksi perempuan ini bukan hanya sekadar persoalan medis murni. Akan tetapi lebih tepat dilihat dari kacamata antropologi kesehatan (medical anthropology). Implikasinya adalah ketika menyusun pendidikan kesehatan reproduksi untuk santri dan masyarakat, misalnya, jangan hanya menggunakan teori-teori medis murni, akan tetapi juga harus menggunakan pendekatan antropologi, dengan melihat struktur sosial, tradisi, budaya dan kearifan lokal.

Deret panjang kiprah Bunda Hindun dalam mempresentasikan gagasan di forum internasional tidak bisa dipandang sederhana. Dalam forum konferensi internasional, Bunda Hindun juga sempat menjadi narasumber. Bunda Hindun menjadi pembicara pada 4th Asia Pacific Conference on Reproductive Health and Rights (Konferensi Asia Pasifik tentang Kesehatan dan Hak Reproduksi) di Hyderabad India, 2007. Sesuai dengan kiprah dan perhatiannya, Bunda Hindun memberikan presentasi tentang kurikulum kesehatan reproduksi perempuan di pesantren. Bunda Hindun juga menjadi pembicara pada International Conference on Girls’ Education (Konferensi Internasional tentang Pendidikan Perempuan) di Islamabad pakistan 2011. Tema presentasi yang ia angkat adalah pendidikan madrasah dan pesantren di Indonesia.

Karya tulis Bunda Hindun, ada beberapa yang belum dipublikasikan. Di antaranya yang cukup up to date adalah skripsinya yang berjudul:  Penjabatan Non-Muslim Sebagai Kepala Negara dalam Pandangan Fiqih Siyasah al-Mawardi dan Ibnu Taimiyah. Adapun karya yang telah terpublikasikan antara lain buku berjudul Praksis Pembelajaran Pesantren, 2007 (sebuah buku yang ditulis bersama M. Dian Nafi’, dkk). Buku ini merupakan follow up kunjungan ke lembaga-lembaga pendidikan di Amerika Serikat tahun 2002 dan hasil refleksi dengan penerapan pada lembaga pendidikan pesantren. Karya lain yang sempat terpublikasi berjudul Islam and Women, (sebuah artikel, diterbitkan oleh Journal of Asian Women’s Resource Centre for Culture and Theology) vol. 28, no. 1, March 2009.

 

Hindun Anisah juga tercatat sebagai anggota SATGAS PRESIDEN UNTUK PENANGANAN WNI DI LUAR NEGERI YANG TERANCAM HUKUMAN MATI (2011-2012) yang wilayah kerjanya di Saudi Arabia dan Malaysia. Salah satu hasil penting dari tim Satgas adalah MOU antara pemerintah Indonesia dan Malaysia tentang perlindungan TKI di Malaysia. Untuk internal kedutaan atau konsulat jenderal RI, Satgas membuat sistem standarisasi data base WNI/TKI di LN yang berhadapan dengan hukum, juga merekrut lawyer negara setempat untuk mendampingi WNI/TKI di LN yang sedang menghadapi masalah hukum.

 

 

PRIBADI

Kini, PP Hasyim Asyari bersama Bunda Hindun mengasuh 150 pesantren yang sepertiganya mengikuti program tahfidh, hampir 2000 siswa Mts dan MA, juga para peserta didik di Yayasan Semai.

Tak banyak yang mengetahui bahwa kemampuan berorganisasi Bunda Hindun ditempa sejak mondok di Tambakberas. Putri sulung Kiai Muhammad Nasih Hamid ini aktif di Orda (Organisasi Daerah) yang bernama IKSAP (Ikatan Santri Pasuruan). Hindun pelajar juga aktif di KPM (Keluarga Pelajar Madrasah) Tambakberas, sebuah organisasi yang mewadahi kegiatan seluruh siswa-siswi dari berbagai madrasah yang berada di bawah naungan Yayasan Bahrul Ulum Tambakberas. Di Pesantren tempat dia mondok, al-Lathifiyyah Bahrul Ulum, Hindun juga menjadi Seksi Keamanan.

Bakat manajerialnya berlanjut ketika sekolah di Madrasah Aliyah al-Munawwir Yogya. Cucu Mbah Ali Maksum itu menjadi Wakil Ketua OSIS MA al-Munawwir. Bunda Hindun juga sempat menjadi Koordinator Bidang dalam organisasi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UGM Yogya dan di tingkat fakultasnya, Hindun Anisah menjabat sebagai Sekretaris Senat Mahasiswa Fisipol UGM sekitar tahun 1985-1986. Hindun sempat mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) di UGM dan sempat juga mengikuti Latihan Kader Dasar (LKD) PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Cabang UGM.

Namun, pengalaman sendiri saja tidaklah cukup jika tanpa dukungan suami. Konon, ketika tahun 1990-an mencuat isu pembangunan PLTN di Jepara, H Nuruddin Amin, suami Bunda Hindun bersama-sama Kiai Imam Azis dan aktivis LKIs Yogyakarta lainnya mendatangi kantor PWNU Jateng. Saat itu, Rois Syuriahnya adalah Abah beliau sendiri, KH Amin Soleh. PP Hasyim Asyari ketika itu menjadi basis gerakan tolak PLTN. Nuruddin Amin mengundang DR Iwan Kurniawan sebagai pembicara seminar yang dihadiri berbagai LSM di Jepara. Ia menggawangi berbagai diskusi dan pemutaran film-film bertema kecelakaan akibat PLTN di Pondok Pesantren. Bahkan, para santri membentuk gerakan Sholawat Tolak PLTN. Pak Kiai Nuruddin ingat betul, masa itu VCD player masih menyewa dari tempat penyedia jasa peralatan pengantin. Nuruddin menempeli alat yang disewanya dengan stiker tolak PLTN. Situasi Orde Baru yang tidak ramah kebebasan berpendapat akhirnya berakibat Pondok Pesantren mesti berurusan dengan Kodim Jepara.

Itulah sepenggal kiprah suami Bunda Hindun sebagai aktivis sejak muda, hingga tidak heran jika ia memiliki sikap moderat dan terbuka pada setiap aktivitas positif yang dijalani istrinya. Toh, Bunda Hindun tetap menjadi Ibu yang baik bagi kelima anak-anaknya. Ia mendidik anak dengan demokratis. Sejak kecil, tidak ada perbedaan jenis mainan bagi anak-anak, juga memberikan hak penuh untuk memilih jalur pendidikan sesuai minat masing-masing meski kadang tak sesuai dengan pilihan orangtuanya. Kelima anak H Nuruddin Amin dan Bunda Hindun ialah Muhammad Arief Arafat (kelas 3 MA Ali Maksum Krapyak dan tahfidh Al Qur’an), Danial Fayyadl (kelas 1 MA Ali Maksum Krapyak Yogya dan tahfidh Al Qur’an), Achmed Levi Samachat (kelas 2 SMP Bayt Al Hikmah Pasuruan dan tahfidh Al Qur’an), Zharefa Bilqis Faqeehat (kelas 3 SD Semai Jepara) dan Medina Alea Syareefa (kelas 1 SD Semai Jepara).

Terbersit dalam hati H Nuruddin Amin agar di antara anak-anak mereka kelak akan ada yang menjadi dokter. Tetapi, sementara ini tanda-tanda itu belum terlihat sebab minat si sulung nampaknya lebih besar ke studi agama. Harapan Bunda Hindun dan suami, jadi apapun putra-putri mereka kelak, semoga mereka semua adalah para penghafal Al Qur’an yang dapat menjaga, memahami dan mengamalkannya serta mengajarkan ilmu yang mereka miliki kepada masyarakat luas.

Yang pasti, Bunda Hindun adalah jenis “perempuan karir” yang relatif sibuk, akan tetapi kesibukannya tidak membuatnya terus-menerus meninggalkan keluarga, suami dan anak-anak. Tournya ke luar negeri yang paling sering saat ini adalah mengantar umroh sebagai Pembimbing PT Arafah Medina Jaya Travel and Tour, ke Makkah dan Madinah, sejumlah tiga hingga empat kali dalam setahun. Itu pun pasti, Hindun membimbing umroh didampingi suami atau sekali-sekali bersama anak-anak, hanya dalam waktu 12-14 hari saja.

 

Waktu paling lama di luar negeri, ia alami saat setahun merampungkan program S2 di Amsterdam. Selama 40 hari terakhir, Bunda Hindun sempat memboyong suami dan anak-anak ke Amsterdam untuk menemaninya mengerjakan tesis. Di sela-sela mengerjakan itu, Hindun sempatkan mengajak suami dan anak-anaknya tour ke Paris (Museum Louvre, Menara Eiffel dan lain-lain), Brussels (Mini Europe dan lain-lain) dan Bruges (city tour dengan canal cruise). Semoga Bunda Hindun dan keluarga senantiasa sehat agar bisa terus beraktivitas dan mendampingi masyarakat!

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.