Jatuh Penasaran Pada Mat Dawuk

Gusti Allah. Saya menyelesaikan aktivitas membaca novel Dawuk dalam satu malam. Artinya, secara umum, saya nyaman membaca karya Mahfud Ikhwan kali ini. Perlu diketahui, bagaimanapun, pembaca adalah raja. Sebagus apa pun karya, atau bahkan lembaga mana saja yang memenangkannya sebagai karya bagus, kalau pembaca pada akhirnya menyerah membaca, ya mau gimana lagi. Perasaan semacam itu sempat saya rasakan ketika membaca karya Cak Mahfud yang fenomenal dengan judul Kambing dan Hujan. Seingatku, ketika selesai membaca Kambing dan Hujan pada awal 2015, saya langsung mengirim pesan whatsapp kepada Gunawan.

“Kayak gini kok bisa menang sayembara DKJ, Com.”

“Hahaha, tanyakan pada jurinya saja, Com.” Jawab Gunawan main aman.

Lalu, saya jelaskan perasaan personal yang saya rasakan ketika membaca Kambing dan Hujan. Ketika mengambilnya dari rak sebuah toko buku, saya sadar betul bahwa membaca novel setebal 400 halaman lebih jelas perlu niat dan mental bagi pembaca malas macam saya. Tapi, toh, saya tetap membacanya sebab tertarik pada etiket yang tersemat di bawah judul pada halaman sampul.

“Kambing dan Hujan. Sebuah Roman.”

Ya, roman. Meskipun, tentu saya juga tidak mendamba munculnya karakter-karakter supra-natural alias jadi tak logis sebab terlalu sempurna khas novel-novel penulis FLP yang kubaca masa sekolah dulu itu, tentu aku berekspektasi dengan memunculkan sebuah tanya: “roman semacam apa yang akan terbangun dalam novel ini ya?”

Kambing dan Hujan adalah karya bagus. Dan sesungguhnya, inti gugatan saya pada novel itu juga sederhana saja. Kenapa sih kisah Mif dan Fauzia justru jadi kisah serba nanggung begitu? Sebagai roman, ia nanggung berat. Sebagai novel kritik sosial, terlalu naratif. Novel, yang diakui sebagai roman itu, mengisahkan kerumitan perjalanan kisah cinta Mif dan Fauzia menuju pernikahan sebab seperti yang telah kita simak pada banyak resensi lain, orang tua mereka berselisih latar ideologi. Satu tokoh adalah anak pemuka Nahdiyyin, sedang satu tokoh lagi sebagai pemuka Muhamadiyah. Tentu, ditambah sengketa satu dua peristiwa masa lalu yang menambah ingatan buruk kedua belah pihak yang memunculkan gengsi seandainya anak turun mereka akhirnya saling menyatu.

Inilah yang sebetulnya bikin saya agak jengkel. Latar masalah yang sederhana sekali, yang kemudian mengajak pembaca untuk masuk pada keterangan-keterangan masa lalu yang seolah begitu rumitnya. Namun, bahkan sejak awal, tengah hingga akhir cerita, bagi saya Cak Mahfud gagal membangun rasa antara Mif dan Fauzia. Kedua tokoh utama itu hilang, dan tahu-tahu muncul begitu saja di akhir bab dengan drama yang tak terasa dramatis. Perasaan Mif dan Fauzia ketika jatuh cinta, saling kangen, atau was-was menanti restu, malah tidak nampak dalam dialog yang bisa bikin kita sedikit ser-seran ketika baca roman. Malah, kita tersesat pada usaha keras Cak Mahfud untuk membangun periodisasi sejarah dari masa ke masa, juga pesan-pesan moral membosankan ketika Mif maupun Fauzia bercakap-cakap dengan Bapak dan Ibu masing-masing.

Yah, bagian itu memang nilai lebihnya sih. Cak Mahfud berhasil mengajak kita jalan-jalan ke masa gawat pasca kemerdekaan, juga menyajikan tokoh-tokoh masa kecil dalam semesta kehidupan orang tua Mif dan Fauzia itu dengan baik sekali. Atau, keluarga Mif dan Fauzia yang membosankan itu barangkali memang tipikal keluarga ningrat yang memang harus digambarkan demikian kaku. Tapi, kenapa sih Mif dan Fauzia juga tidak dimunculkan sedikit saja sebagai para mahasiswa modern yang seharusnya punya karakter cerdas dan tentunya humoris. Toh, ketika bercerita soal masa lalu bapak-bapak mereka, kita bisa membayangkan anak-anak kecil satu desa dengan beragam psikologisnya, menuntut ilmu bersama di pesantren, lalu melewati masa pengabdiannya sebagai orang dewasa di tengah situasi konflik sosial dan politik yang serba melingkupi mereka. Tapi, kembali lagi pada kecrigisan saya kali ini, cinta-cintaan Mif dan Fauzia nya manaaaa?

Nah, agaknya, gugatan saya kepada novel Kambing dan Hujan ini lalu terpuaskan ketika membaca Dawuk. Jreng, jreng! Saya nggak tahu apa tujuan Cak Mahfud ketika menulis Dawuk. Tapi, dari surat kepada pembaca yang ia tulis pada halaman paling belakang buku sih, alasannya hanya karena ingin bercerita kisah seorang buruh migran bernama Mat, yang menemukan momentumnya ketika Irfan Afifi datang bercerita tentang seseorang yang dimassa warga karena dianggap membunuh istrinya. Hasilnya, inilah novel Dawuk itu.

Dawuk adalah entah dongeng, entah kenyataan narasi lakon Mat Dawuk, seseorang yang kelahirannya menyebabkan kematian ibu kandungnya, disusul kematian ayahnya, lalu hilangnya Mbah Dulawi, kakeknya. Mat Dawuk tinggal di pesisiran utara bagian timur Jawa, yang daerahnya bersisian dengan hutan jati (yang lalu melahirkan tradisi konflik antara sinder-mandor-blandongan), sedikit budaya pesisiran (yang melahirkan kultur omong ceplas-ceplos, budaya ngrasani tetangga, dan selera pada musik dangdut dan india), dan belakangan kampung yang menjadi pemasok para TKI ke Malaysia (yang melahirkan tradisi gagap kemajuan). Terlahir bermuka menyeramkan, dengan latar keluarga yang buruk, Dawuk tumbuh jadi sosok yang dikucilkan namun menyimpan berbagai ketidaktuntasan identitas kedirian sekaligus amarah. Dawuk kemudian pergi ke Malaysia dan kemudian menjadi suruhan untuk membunuh. Ya, membunuh siapa saja, sesuai permintaan para penggajinya.

Di Malaysia, ia kemudian bertemu Inayatun. Inayatun adalah tipikal kembang desa Rumbuk Randu yang dapat kita bayangkan sebagai perempuan penggoda atau perusak rumah tangga orang. Tapi, pertemuannya dengan Dawuk di Malaysia itu adalah pertemuan dengan Inayatun yang telah hancur-hancuran.

Di sinilah, kemudian saya mau sorak-sorak ke Cak Mahfud.

Horeeeee! Cak Mahfud berhasil membangun suasana manis pada tokohnya. Ih, manis sekali lho, Cak, ketika dua mantan gentho laki-laki dan gentho perempuan ini saling jatuh hati. Suasana manis itu muncul sejak di stasiun, hingga ke rumah singgah di Malaysia, hingga ke rumah kandang di Rumbuk Randu, bahkan sampai siang ketika mereka saling berpisah sebelum Dawuk pamitan cari buah kecacil. Semua dialog pas, situasi batin pas, deskripsi-deskripsi adegan pada tiap segmen semua pas.

Jadi, ketika membaca, aku sempat was-was, senang, berbunga-bunga, hingga terhempas dalam kesedihan yang mendalam secara proporsional dan sentimentil. Lalu, epilog dan kejutan di akhir soal narator juga pas. Cinta banget lah jadinya!

Latar-latar masa lalu yang menjalin waktu itu tentu saja sangat kunikmati. Apalagi, takdir sebagai orang Blora yang membuatku sedikit bisa membayangkan soal rezim perhutani dan budaya pesisiran. Meskipun Alhamdulillah, ya, Blora nggak banyak-banyak amat mengekspor buruh migran. #eh.

Aduh, aduh, aku suka hampir keseluruhan penggambaran situasi psikologis di Desa Rumbuk Randu. Mulai dari para perangkatnya yang kemaki, detil-detil magis perdukunan, sengak penjual di pasar kepada Inayatun sekaligus cara Inayatun berseloroh (bayangin mantan gentho yang tobat tapi tidak hilang kegenthoannya ini idolaku banget), dan adegan-adegan massal yang nggegirisi itu.

Kisah Dawuk diakhiri dengan tragis, tentunya karena dua tokoh utama kita ini sama-sama tak disukai banyak orang tapi sialnya sekaligus juga berkarakter menarik dan menantang hingga menimbulkan rasa iri dan dendam buat sosok-sosok jahat di Rumbuk Randu.

Akhir-akhirnya, terimakasih Cak Mahfud telah menulis Dawuk. Sebagai pembaca, aku sempat beralih rasa, mulai dari ikut ketakutan membayangkan sosok pembunuh itu, lalu sentimentil ingin jadi sahabat karib yang mengawaninya membagi rasa, dan berakhir jatuh penasaran dan ingin menemukan keberadaannya hari ini.

Oh ya, faktor lain kenapa novel Dawuk mudah kuselesaikan sesungguhnya juga karena faktor tipisnya halaman. 150-an halaman saja. Bagaimana pun, buku tipis dan efektif adalah buku paling baik untuk dibaca. Sruput kopinya, Cak!

 

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.