Kesadaran Yang Terus Kita Perjuangkan*

Duka. Pada bulan April tahun 1953 itu, Abdurrahman Ad Dakhil alias Gus Dur kecil menemani ayahnya bepergian ke Sumedang untuk sebuah acara pertemuan Nahdlatul Ulama. KH Wahid Hasyim yang saat itu menjabat Menteri Agama duduk di bagian belakang Chevrolet putih, sedangkan Gus Dur duduk di depan bersama pengemudi. Naas, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di jalur antara Cimahi-Bandung yang licin sebab hujan turun deras di jalur sibuk. Ketika seorang  pahlawan Nasional pencetus piagam Jakarta itu berpulang , usia Gus Dur baru 12 tahun.

Dalam Biography Gus Dur (Authorized Biography of Abdurrahman Wahid) karangan Greg Barton, momen kedukaan itu menjadi salah satu penanda kesadaran dalam diri Gus Dur. Greg menggambarkan,”…Pada saat rombongan melewati jalan-jalan di Bandung dan kemudian ke jalan raya, Gus Dur tercekam melihat demikian banyaknya orang yang berbaris di tepi jalan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayahnya…” Sebuah momen estetik yang kemudian didukung dengan melimpahnya bahan bacaan, akses pada pendidikan dan diimbangi dengan sosio-kultur pesantren Jawa yang menjadi darah asal identitas personal seseorang yang di masa depan ternyata menjadi Presiden sekaligus tokoh kemanusiaan paling penting di Negara ini.

Lain Gus Dur, lain Salim Kancil. Namanya barangkali tidak begitu familiar. Pemuda itu dibunuh pada 26 September 2015 karena menolak penambangan pasir ilegal di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-awar, kota Lumajang, Jawa Timur. Mangkatnya Salim Kancil sebagai martir itu adalah bagian dari konflik agraria struktural karena penetapan izin area penambangan yang dibuat oleh pejabat publik dan berdampak luas kepada warga sekitar, termasuk lahan pertanian yang rusak akibat kegiatan penambangan. Pertanyaan yang kita ajukan kemudian adalah darimana asal kesadaran Salim Kancil hingga memiliki kehendak melawan dan sikap politik berwujud penolakan atas kebijakan yang dinilainya tidak tepat? Kesadaran yang serupa itulah yang juga dimiliki oleh sejumlah sedulur Sikep serta para petani Kendeng yang hingga kini masih berjuang menolak pendirian pabrik semen di Rembang, juga tak terbilang perjuangan masyarakat adat di berbagai daerah di wilayah Indonesia Timur dalam membela tanan ulayatnya.

Bicara tentang sikap serta kesadaran politik tidak bisa sederhana. Seorang bocah yang ayahnya ditahan rezim Soeharto sebab semata orang dekat Soekarno, misalnya, selamanya tidak akan bisa berdamai dengan sejarah Orde Baru. Di matanya, persetan dengan ideologi pembangunanisme atau dosa pembungkaman demokrasi. Satu hal yang ia ingat hanya serpih bahwa pada masa Soeharto, ia terpisah dari ayahnya hingga keluarganya menderita. Alasan yang begitu personal, namun cukup menjadi landasan sebuah sikap radikal. Di sisi lain, seorang anak tentara dan pegawai negeri pada masa itu, tentu saja sulit untuk berkata bahwa terjadi banyak ketimpangan sosial sebab kenyataannya keluarga mereka hidup sejahtera dengan mudahnya akses pendidikan dan ekonomi. Tiap-tiap pribadi dan komunitas selalu punya pengalaman masing-masing sebagai realitas objek hegemoni.

Ada dua pendekatan umum yang biasa dipakai dalam rangka menciptakan bentuk tatanan masyarakat (society), sebuah imajinasi di mana manusia-manusia yang berbeda dan tidak saling terhubung dapat hidup bersama dengan damai. John Stuart Mill dalam On Liberty mengimajinasikan sebuah masyarakat sebagai kontrak sosial yang digagas untuk saling menguntungkan. Semua orang harus setara, mereka mesti dibiarkan bebas dan mungkin untuk bergerak, mengembangkan bakat, dan memelihara hubungan sesuai keinginannya. Satu-satunya prinsip di dalam masyarakat Millian adalah mencegah seseorang merugikan hak-hak orang lain. Visi Mill banyak dihayati oleh masyarakat liberal dan libertarian yang meluhurkan perdamaian, keterbukaan, dan tempat kreatif bagi keragaman serta pola-pola kerelawanan dalam kepentingan perubahan hukum atau kebaikan bersama.

Emile Durkheim mengajukan tawaran yang kontras untuk Mill. Bagi Durkheim, masyarakat terbentuk bukan dari individu-individu bebas, melainkan sebuah perjalanan panjang organik ketika manusia menemukan cara hidup bersama, meleburkan diri mereka satu sama lain, mengorbankan hak-hak individu, menghukum mereka yang menyimpang dari kesepakatan umum serta mengancam kesejahteraan kelompok. Elemen dasar kehidupan sosial bukan hak perseorangan, melainkan komunal hirarkis terstuktur yang melayani institusi lainnya. Sebuah masyarakat Durkheimian lebih melihat self-control dibanding self-expression, kewajiban dibanding hak, dan loyalitas seseorang pada sebuah kelompok. Pendeknya, masyarakat dalam pandangan Durkheim bersifat hierarkis, suka menghukum dan relijius. Ia membatasi otonomi pribadi dan mempromosikan tradisi.

Saya kira, kita tak pernah benar-benar memilih untuk menjadi Millian atau Durkheimian. Pergulatan serius antara kemerdekaan pribadi dan hasrat pada pengakuan diri dalam masyarakat hierarkis selalu berkelindan dalam jagad diri. Lalu, bagaimana sesungguhnya teropong kesadaran politik ala Indonesia?

Novel-novel klasik gubahan Pramoedya Ananta Toer, Mas Marcokartodikromo atau Umar Khayam barangkali contoh yang bagus untuk mendeskripsikan jenis-jenis budaya politik yang mengakar dan berkembang di Indonesia. Pram, dalam Tetralogi Buru menghadirkan tokoh intelektual yang tergugah kesadaran radikalnya secara kognitif di tengah keluarga dan pola masyarakat hierarkis warisan kolonial yang begitu ketat. Sedangkan Marco dan Khayam, menggambarkan bagaimana para priyayi membentuk kecenderungan patronase sekaligus patrimonialistik dalam relasinya dengan kolonial dan pemerintahan.

Saya jadi teringat ibu saya sendiri. Sebab ia telah yatim sejak kecil, masa mudanya  habis untuk menjadi pembantu rumah tangga dan buruh toko. Meskipun kini ia tidak lagi menjadi buruh, ia tetap menundukkan kepala pada orang-orang yang dianggapnya kaya dan berkuasa, juga menyapa mereka menggunakan bahasa jawa krama inggil. Krama inggil adalah simbol yang memuat nilai hierarkis dalam bahasa Jawa. Bahkan, ibu masih duduk di bawah ketika menyambut tamu yang ia “tuankan”.

Ngomong-ngomong, ada pula sebuah lelucon tentang tradisi terbentuknya sikap politik anak muda masa kini sejak dari kehidupan universitas. Umumnya, anak-anak muda belajar kepemimpinan dan kebijakan publik lewat organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa. Yang terjadi sesungguhnya adalah, satu tahun pertama mereka belajar soal gerakan dan kepemimpinan, sedangkan tiga tahun berturut-turut berikutnya mereka belajar menindas. Hayo, ngaku saja, adakah dari kita yang masuk senat atau dewan mahasiswa agar bisa turut serta mengospek angkatan baru serta gila senioritas?

*esai ini dimuat Majalah Esquire edisi Mei 2017 pada Kolom Politik.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.