Kepada Muktamar…

Tulisan ini saya unggah di akun Facebook saya jelang Muktamar NU tahun 2015. Dan di saat NU semakin ramai diperbincangkan seiring irisannya dengan politik elektoral, saya mengunggahnya sekali lagi.

Kepada Muktamar…

Kepada Muktamar…

Walaupun raga tak turut bermuktamar, tetapi lisan dan jiwa turut mendoa. Kita doakan bersama-sama agar muktamar NU tidak sekadar fokus pada pembentukan pengurus secara struktural, akan tetapi juga merindu cita-cita ummat yang adil makmur dan diridhai Allah SWT.

Namun begitu, kita insafi bersama bahwa dalam NU, pengurus adalah titik sentral, pesona yang berpendar-pendar, lentera yang dikelilingi oleh para pencari cahaya. Mereka adalah pewaris para Nabi, para ulama yang menjaga tradisi keislaman, keilmuan dan kebangsaan. Di pundak mereka harap Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari sejak 1926 sambung-bersambung, menghidupi bangsa hingga hari ini. Kita mendoa semoga ritual membentuk kepengurusan adalah ritual mengingat epistemologi NU –sebuah ijtihad keras dan panjang yang disaksikan ruang dan waktu, meretas sejarah dan menyulam kehidupan—bukan sekadar menjadi panggung taktik dan intrik politik ataupun ikhtiar-ikhtiar lain yang membuat NU selalu repot-repot memunculkan tema semacam “kembali kepada khittah” atau berpeluh kembali mencipta epistemologi (lama) dan baru perihal islam Nusantara.

Kepada NU, ingatlah bahwa di desa-desa, di tiap pelosok Nusantara, ada mereka:
Masyarakat kecil, wong cilik, liyan. Mereka –para pedagang kecil di pasar, pedagang keliling, tukang parker, pegawai bengkel, tukang becak, sopir, para petani dan nelayan—yang tidak paham apa itu muktamar, tidak paham bagaimana kepengurusan, tetapi jika kalian bertanya: apakah kalian itu? Mereka akan menjawab: Saya Islam. Saya NU. Kula pejah gesang nderek Nahdhotul Ulama. Saya hidup mati ikut Nahdhotul Ulama.” Mereka tidak memiliki seragam hijau tua bergambar bola dunia dilingkari tali tersimpul dan dikitari 9 bintang serta tulisan Nahdhotul Ulama, tetapi mereka adalah jamaah yang dari desa-desa yang jauh, datang dengan iuran seadanya berdiri di atas mobil-mobil bak terbuka menantang panas dan hujan, untuk meramaikan pengajian, haul dan muludan.

Belajarlah dari mereka, yang jika kau tanya mengapa datang ke majlis, mereka niscaya menjawab: mencari barokah ulama dan syafaat Kanjeng Nabi Muhammad ila yaumil qiyamah bibarakati silaturahiim. Itulah yang menyebabkan mereka tak berebut tempat duduk ketika sampai ke majlis setelah berangkat dari desa-desa yang jauh itu. Mereka berdiri di baris-baris belakang sepanjang acara, mereka bilang biarlah barisan depan diduduki oleh para ulama, para kiai, para sesepuh, para pengurus Nahdhotul Ulama yang kami cintai. Di tengah gegap gempita jaman ini, mereka hanya mengejar barokah, yang lebih sakral dari sekadar rahmat, yang mereka tempuh lewat adab tinggi kepada ulama. Barakah, adalah keniscayaan yang membuat jiwa tentram sebab insaf apapun yang diberi Allah di dunia ini adalah kehendakNya semata. Mereka berdiri mendongak dongak di baris belakang, melantun sholawat dengan semarak, mengucap aamiin dengan khusyu dan berebut tangan ulama untuk sekadar melepas rindu pada Kanjeng Nabi Muhammad. Mereka ciumi tangan ulama seakan mereka bermuwajjahah dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Merekalah yang ketika pulang kembali ke desa-desa menjaga tradisi islam Nusantara, menerapkan laku epistemologi Islam Nusantara, menjaga tanah pertiwi lewat jamaah, dzikir bersama-sama, tahlil, dan tradisi doa-doa dan sholawat dalam segala ragam bentuk budaya.

Kepada Nahdhotul Ulama, engkau organisasi besar yang lahir dan hidup dari cita-cita menjadi warga islam di dunia yang menjadi pertolongan bagi semesta alam, saya berdoa dengan tulus…

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.